Desember 07, 2016

Bandung di Musim Hujan

Memasuki bulan Ber, Ber, Ber, kali ini agak lain daripada biasanya. Selama saya kuliah bahkan sampai tahun 2015 pun, saya nggak pernah mendengar kalau Bandung itu banjir. Hujan memang selalu deras di kota itu, tapi suasana dingin dan lembab justru sangat saya rindukan. Jadi teringat masa-masa kuliah, jalan kaki sambil pakai payung untuk pulang ke asrama. Suasana Bandung yang dingin, bikin saya pengen mampir beli takoyaki di pinggir jalan. Dulu uang jajan cuma sejuta termasuk duit asrama, cuma bisa jajan takoyaki seharga Rp. 5,000.

Saya kembali ke Bandung pertengahan November kemarin. Sebenarnya sudah merencanakan ke kota ini sejak awal November tapi saya sudah terlalu sibuk. Di satu sisi saya pengen banget menyemai semua benih-benih bisnis, saya jaga mereka sampai tumbuh dan berkembang, lalu pada akhirnya saya tinggal santai-santai aja. Sayangnya, keinginan nggak seindah keadaan. Kesempatan berbisnis datang terus, tapi waktu terlalu sedikit.

Too Many Ideas Too Little Time

Saya ke Bandung untuk bertemu dengan salah satu sahabat saya bernama Anis. Dia bersama keluarganya juga kemarin ikut dengan saya ke New Zealand. Saya suka banget belajar bisnis dari Anis karena dia sudah memulainya sejak 2009 (7 tahun), sedangkan saya baru 2012. Dia juga CEO dari 2 perusahaan. Pengalaman dia di dunia bisnis juga jauh lebih banyak, mau pengalaman pahit dan manis, semuanya berharga dan bisa menjadi pembelajaran buat saya. Anis juga orangnya baik banget, ramah, dan rendah hati. Saya udah mengenal seluruh keluarganya. Jadi kalau ke Bandung, saya menginap di rumahnya. 
Makan siang
Seperti biasa, saya naik Aya Travel dari Depok ke Bandung, lalu dijemput Anis di Taman Sari. Lalu kami nongkrong sebentar di Butterfield Kitchen di Jalan Dipatiukur no. 5, Bandung, sambil menunggu Alys (anaknya Anis) pulang sekolah. Kita ngobrolin bisnis (saya belajar bisnis) dan curhat tentang karyawan atau partner bisnis. Anis memberikan banyak masukan kepada saya dan ide dia memberikan pengaruh besar pada bisnis saya. Biasanya kalau selesai ngobrol sama pebisnis, kepala saya pasti kepenuhan dan rasanya panas. Setelah Alys pulang, kami mampir ke rumah Mama Anis sambil menunggu suaminya pulang kantor, sekalian makan malam dulu. Waktu itu Mama Anis masak sop buntut. Biasanya saya nggak suka sop buntut dan masakan Mama Anis enaaaaak banget. Jadi nambah terus nih. Sekitar jam 12 malam, baru deh pulang ke Kota Baru Parahyangan.

If You Wanna be a CEO, then Make Friends With the CEOs

Besoknya, kami ke perkebunan Anis. Baru kali ini saya naik Jeep Wrangler untuk ke kebun. Mobilnya keren banget deh, memang cocok untuk medan jalan berlumpur, menanjak, dan menurun. Semoga suatu hari sanggup beli super car, aminnn. Hari itu saya akan menjadi petani. Saya belajar mulai dari bercocok tanam, mengolah pupuk, green house, panen, mencuci hasil panen, memilih sayuran, mengemas, sampai siap di kirim ke supermarket. Lelah juga sih tapi pelajarannya terlalu berharga. 
Awalnya teman-teman saya mau menyusul ke saung Anis, tapi nggak jadi. Padahal kan seru bisa camping malam-malam disini. Suara jangkrik terdengar jelas di malam hari dan suara gemercik air menambah tenang suasana.  Apalagi semua makanan yang disuguhkan adalah organik. Sayuran organik, ikan nila organik, dan sambal mantep banget. Kami bekerja di saung sampai jam 11 malam, lalu baru pulang ke Padalarang.
Semoga sanggup beli mobil ini
Berkebun
Alys ikut kerja juga
Hari minggu waktunya ngajak main Alys. Kami nonton Trolls, duduk di deretan paling belakang karena Alys suka berdiri, supaya nggak mengganggu penonton lain. Saya dan Anis tertawa paling keras di bioskop. Lucu banget deh film Trolls ini. Saya ngakak melulu. Udah lama juga nggak nonton bareng Anis. Terakhir kali sewaktu kuliah. Selesai nonton, hujan deras mengguyur Bandung lagi. Berita di detik.com kalau tol Cipularang (yang menghubungkan Bandung dan Jakarta) kebanjiran. Duh, belum pernah kayak gini sebelumnya. Bahkan banyak mobil terendam. Alhamdulillah kami di Bandung nggak kena macet. Dari Trans Studio Mall kerumah Anis hanya satu jam saja.
Selamat pagi
Besoknya saya menemani Anis ke Riau Junction untuk melihat sayuran yang kemarin dipanen sudah masuk ke supermarket. Saya jadi paham cara berjualan di mulai dari benih sampai masuk ke supermarket besar seperti ini. Ilmu seperti ini sangat berharga buat saya. Setelah makan, saya diantar kembali ke Aya Travel di Taman sari untuk pulang ke Depok. Penumpang hanya 4 orang termasuk saya dan selama perjalanan saya tidur pulas sampai tiba di Depok. Selama di Bandung saya tidur jam 12 keatas terus sih, jadi ngantuk banget di mobil. Sewaktu bangun, saya pusing sendiri melihat notifikasi di handphone sampai penuh dan saya harus baca satu demi satu. Belum lagi banyak missed calls yang harus saya teleponin ulang.

Alhamdulillah sampai Depok hanya dalam waktu 2,5 jam. Minggu ini saya ikut event banyakkkk banget dan semuanya pagi. Semangat!!!!

Desember 05, 2016

Ojek Online

Sudah lama nggak posting cerita. Berhubung antrian postingan sebenarnya masih banyak banget, jadi saya kasih intermezzo dulu ya. Berikut adalah sepenggal cerita saya dengan seorang pengemudi ojek online yang biasa saya tumpangi di sebuah stasiun. Seperti biasa, saya tambah bumbu penyedap agar enak dibaca. Cekidot!

***

Sebagai orang yang sudah lama tinggal di Jakarta dan sekitarnya, kalian pasti tau kalau hampir setiap pagi kita akan dihadapkan dengan kemacetan yang luar biasa. Karena itu, aku lebih suka naik kereta dari Depok ke Jakarta, lalu pesen ojek online di stasiun Tebet. Terserah orang mau bilang apa tentang aku yang suka naik kereta dan ojek, aku lebih suka menghemat waktu daripada harus tetep gaya naik mobil kena macet, hahaha. Dan biasanya aku pasti mengobrol dengan abang ojek. 

Kali ini obrolannya lumayan seru.
“Kerja apa kuliah, Mbak?”
Duh, apa se-baby face inikah wajahku sampai selalu disangkain anak kuliahan. “Kerja, mas.”
“Kok baru jalan jam segini?”
Aku melihat jam, oh iya udah jam 10.30 siang. “Saya ada interview jam 11 siang mas.”
“Di gedung ABC?” 
“Iya, Mas.”
“Saya juga Mbak, tapi jam 2 siang nanti.”
Wah, kok kebetulan. “Interview di perusahaan apa mas?”
“Di PT Keren mbak. Tau nggak mbak?”
Aku langsung syok. Dia bakalan interview di perusahaanku. “Nggak tau mas. Perusahaan apa itu?”
Start up mbak. Pemilik perusahaannya traveller juga. Cewek lagi. Keren deh pokoknya.”
Aku langsung Ge-eR, “Wah, mas naksir ownernya ya?”
“Nggak sih. Nggak tau juga berapa umurnya. Mungkin sekitar 25 tahun kali ya.”
Kok bahas umur? Pikiranku langsung sensi. Tapi bagus juga disangkain masih berumur 25 tahun, yeay!

“Trus, startup itu apa mas?” tanyaku pura-pura bego.
“Perusahaan baru mbak. Usia perusahaan kurang dari 3 tahun, jumlah pegawai kurang dari 20 orang, pendapatan kurang dari $ 100.000/tahun, masih dalam tahap berkembang, umumnya beroperasi dalam bidang teknologi, produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital, dan biasanya beroperasi melalui website."
Aku terpana. 
"Ngerti nggak, Mbak?”
Gile ni supir ojek kece banget. “Nggak ngerti Mas, otak saya nggak sampe situ. Trus, kenapa mas mau masuk situ?”
“Mungkin karena startup itu dibuat sebagai solusi dari masalah masyarakat mbak. Kayak ojek online nih, dibuat startup ojek supaya memudahkan kita tukang ojek cari penumpang, dan penumpang nyari tukang ojek. Biasa startup dibuat oleh orang-orang kreatif mbak, karena sekarang cuma orang kreatif yang bisa mengubah dunia. Saya pengen banget jadi bagian dari orang-orang itu.”
Aku terpana lagi, Bahkan sampai melongo. Gile ini supir ojek keren abis. 

“Mas udah lulus?”
“Belum mbak, semester 7 sih. Mata kuliah tinggal dikit kok.”
“Kalo ngojek online begini, dapat berapa sebulan?”
“Sekitar 8 juta mbak.”
“Gaji saya aja 5 juta mas. Kalau saya keterima di perusahaan baru ini pun, cuma naik Rp. 500rb doang.”
“Tapi kan kalo tukang ojek, ditulis di CV nggak keren mbak. Makanya saya mau kerja di PT Keren, supaya bagusin CV dan emang perusahaannya di bidang startup mbak. Saya suka. Kalau istilah kekiniannya, saya ‘passion’ disitu mbak.”
“Apaan passion, Mas?” aku pura-pura bego lagi.
“Definisinya nggak tau juga sih mbak. Tapi passion itu kayak cinta mbak. Kalau udah cinta sama sesuatu kan kita rela berjam-jam ngerjainnya, sampai malam malah. Bahkan rela juga untuk belajar cara menaklukkannya mbak. Kayak naklukin cewek gitu kan harus passion mbak, karena cinta. Ciehhh!”
Aku ngakak. “Analoginya aneh banget mas.”
Mas ojek juga tertawa ngakak.
Aku lalu terdiam. Tidak lama kemudian kami sampai di gedung ABC.
“Semangat ya mbak interviewnya. Doakan saya juga!” kata mas ojek sambil menerima helm dariku.
Aku masuk ke gedung sambil memberikan bintang 5 kepada tukang ojek bernama Ryan.

Pukul 2 siang, aku duduk di ruang rapat bersama Manager HRD dan seorang direktur Marketing, bersiap untuk menginterview. Seseorang mengetuk pintu dan kami mempersilahkannya masuk. Cowok itu adalah Ryan, dan dia syok melihatku. Aku tersenyum dan kami berjabat tangan. Manager HRD menanyakan beberapa pertanyaan standar tentang gaji dan jam kerja. Sedangkan temanku direktur Marketing hanya menyuruh Ryan untuk menceritakan tentang dirinya.

Selesai dua orang temanku menginterview Ryan, aku gantian yang ngomong. “Kamu tau, ruang interview pasti membuat kamu nggak se-rileks ketika kita ngobrol tadi. Kamu bisa memaparkan apa itu bisnis startup dengan sejelas mungkin tadi. Saya kaget, sekaligus kagum. Termasuk kagum juga dengan analogi ‘passion’ versi kamu.”
Ryan masih terdiam dan terbelalak.
Aku bangun dan menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Selamat datang di PT Keren. Mari bersama-sama menjadi orang kreatif untuk mengubah dunia.” Kataku tersenyum.

Desember 04, 2016

Tempat Wisata dan Kuliner di Surabaya

Setelah mandi sore, saya menunggu teman abang saya bernama Mbak Rimbun yang berencana bakalan menginap di hotel bareng saya. Sekalian mau menemani saya dan Rezki malam mingguan di Surabaya. Setelah menunggu, akhirnya mbak Rimbun datang dan menaruh barang dulu di kamar saya. Kami mengobrol sejenak sambil menunggu adzan magrib. Ketemu mbak Rimbun itu seperti flash back ke masa-masa di komplek PIM, walaupun dulunya mbak yang satu ini bukan genk abang saya, hahaha.

Setelah magrib, kami mulai menyusuri kota Surabaya dengan menggunakan Uber:

Calibre Coffee Roasters
Warung kopi keren yang satu ini terletak di Jalan Walikota Mustajab No. 67 - 69, Ketabang, Genteng, Surabaya, telepon: (031) 5454801. Sebenarnya agak salah kalau nongkrong di Cafe Kopi dulu sebelum makan berat. Karena kalau udah minum kopi, coklat, atau green tea begituan pasti bawaannya kembung dan kenyang. Suasana cafe ini lumayan cozy dan banyak anak muda yang ikutan nongkrong disini.
Anak Gaul Surabaya
Coklat Dingin
Balai Kota
Dari Calibre, kalian hanya tinggal jalan kaki menuju tempat ini. Mungkin tulisan 'Balai Kota' adalah tempat wajib untuk berfoto ketika ke Surabaya. Kalian bisa melihat air mancur yang ada di depan tulisan dan banyak banget anak-anak mandi disitu. Mana lucu banget karena mereka berdiri di titik air, lalu ketika air muncul mereka tersiram seluruh tubuh. Saya sih males basah-basahan disitu. Mana saya pakai high heels. Tapi sempat merekam momen-momen lucu disana, hihihi.
Balai Kota
Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih
Dari Balai Kota, kami berjalan menuju Sate Klopo di Jalan Walikota Mustajab No. 36. Katanya sih sate klopo ini salah satu kuliner wajib di ibukota Jawa Timu. Sewaktu datang kesini, tempatnya penuh. Untung aja kami bisa dapat tempat untuk makan. Kami memesan 20 tusuk sate daging, nasi, dan teh manis dingin.
Ibu-ibu bakar sate
Makan sate
Keunikan dari sate ini adalah dimasak pakai kelapa yang sudah di sangrai tapi nggak sampai gosong. Enak banget rasanya karena ada rasa gurih dari kelapa. Berhubung saya nggak begitu suka sate, jadi saya makan sedikit aja. Rezki dan mbak Rimbun yang makannnya lumayan banyak. Harga satenya juga nggak begitu mahal, hanya Rp. 2000 untuk satu tusuk.

Night Market - Food Festival Pakuwon City
Semula kita mau ngeliat air mancur warna-warni tapi jalan kesana malah ditutup. Akhirnya kami berbelok ke Night Market yang pernah saya kunjungi di bulan Mei kemarin. Dulu sih sewaktu kami kesini malah hujan deras dan membuat kami harus makan di dalam mobil. Kali ini sewaktu datang kesini cuaca sangat mendukung. Sayangnya saya udah kenyang banget, jadi nggak begitu kuat kalau harus makan lagi. Akhirnya hanya beli pie dan martabak duren aja.
Selfie dulu
Setelah benar-benar kekenyangan, kami pulang ke Hotel sekitar jam 10 malam. Untuk saya sih jam segitu masih masuk dalam ungkapan "The Night is Still Young", tapi udah nggak tau lagi mau ngapain di luar. Alhasil cuma cerita-cerita doang nostalgia selama di komplek PIM dulu. Sekalian me-refresh ingatan saya yang udah tergerus tsunami ketika di Aceh dulu hahaha. Abis tsunami memang saya agak amnesia tentang masa kecil.

Kami tidur sekitar jam 1 malam, bangun shalat shubuh jam 4 pagi, tidur lagi, sarapan jam 9 pagi, balik kamar, leha-leha sejenak, baru mandi. Nanti malam saya dan Rezki sudah harus pulang ke Jakarta dan kami berencana menjenguk Papa mbak Rimbun dulu. Sekalian silaturahmi dengan orang-orang PIM teman-teman Papa. Menyambung silaturahmi itu kan menambah rezeki.

Kepiting Cak Gundul
Sebelum ke rumah Mbak Rimbun, kami mau makan kepiting dulu yang namanya lumayan Legendaris di kalangan food blogger bernama Kepiting Cak Gundul. Lokasinya berada di Jalan Raya Kupang. Tempatnya agak kecil, bukan resto besar seperti Bandar Jakarta di Ancol. Karena udah check out Hotel, saya jadi bawa-bawa koper ke tempat makan yang satu ini. Tapi nggak apa-apa juga sih karena bisa naruh kopernya di pojokan.
Menu makanan
Struk
Kami memesan kepiting 2 piring dengan bumbu saus padang. Sebenarnya bingung juga kami pesan kepiting porsi yang mana dan sekalinya keluar 2 piring besar kepiting remuk. Yang paling bikin capek adalah cara makannya. Kami harus konsentrasi penuh untuk membuka cangkang kepiting bahkan sampai nggak ngobrol satu sama lain. Yang bikin agak syok lagi sewaktu liat tagihan udah hampir Rp. 500rb hahaha. Makan kepiting memang mahal ternyata. Tapi yang membuat saya agak nggak rela mungkin karena ini bukan Resto besar seperti King Crab atau Cut The Crab di Jakarta. Bukan tempat yang Instagramable juga.
Selfie dulu
Setelah makan, kami mampir ke rumah mbak Rimbun. Karena turun di jalan besar, saya harus mendorong koper lagi sampai ke rumahnya. Ngeliat Mamanya mbak Rimbun jadi flashback lagi. Memang saya kurang inget sama Papanya, tapi Mamanya inget banget karena sering keliatan dulu sama Mama saya. Saya jadi kangen sama Papa saya kalau melihat orang-orang PIM dulu. Kami mengobrol lama sambil makan rujak cingur. Sampai akhirnya kami harus berpamitan pada pukul 4 sore dan naik Uber ke bandara.

Mungkin tahun depan saya baru bisa lagi ke Surabaya dan Malang. Dan pada saat kesempatan itu datang, mungkin saya bakalan lebih banyak lagi bersilaturahmi.

Oh ya, ini adalah postingan saya ke 800! Horreeee, sudah banyak banget tulisan saya. Kalau satu postingan itu sebanyak 3 halaman, berarti saya sudah menulis 2000an halaman dong. Semoga bisa terus menulis, aminnnn.....

Desember 02, 2016

Surabaya Lagi

Sepulang dari Air Terjun Madakaripura, perjalanan ke Surabaya pun dilanjutkan. Sepanjang jalan saya tidur, walaupun udah gerah karena belum mandi dari kemarin. Sempat berhenti makan siang di warung pinggir jalan. Saya pesan sup iga, rawon, ayam bakar, dan kami menghabiskan uang Rp. 100rban lebih. Kok mahal ya? Padahal cuma makan di tempat biasa.

Kami tiba di Surabaya sekitar pukul 5 sore. Awalnya bertanya pada bapak supir dimana hotel yang di tengah kota. Bapak sopir menyarankan kami menginap di Hotel Tanjung, katanya sebelah Tunjungan Plaza. Saya tanya ulang, yakin itu di sebelahnya? Dan bapak sopir yakin. Ya sudahlah, saya dan Rezki udah malas juga berdebat tentang hotel. Rezki booking hotelnya dan kami pun berangkat. Sesampai di Hotel, saya merasa hotelnya kok agak creepy ya? Bangunannya lama dan agak gelap. Saya (pura-pura) cuek aja dan cek in. Kamar saya di pojok, sedangkan Rezki agak di tengah koridor. Saya nyalakan lampu tapi hanya beberapa yang nyala. Saya lihat lemari kok seperti di film Conjuring dimana nanti ada hantu yang bertepuk tangan, plok, plok!

Sebenarnya saya nggak takut sama hantu-hantuan, tapi suasana di hotel kok serem banget yah. Saya masuk ke kamar mandi dan melihat bathtubnya sudah bersarang laba-laba. Saya liat toilet dan airnya hitam. Saya flush berkali-kali dan sepertinya noda hitam itu adalah kerak di dalam penampungan airnya. Showernya juga nggak deras. Berhubung saya udah gerah setengah mati, saya sabar aja nungguin airnya sampai bersih dan mandi keramas. Selesai mandi, saya nyalain hair dryer dan merasa suara hair dryer juga jadi bergema dan menyeramkan. Saya langsung shalat magrib supaya nggak seram-seram amat. Tiba-tiba Rezki nge-Whatsapp saya dan dia mau pindah malam itu juga. Kasian juga sih kamarnya karena udah bayar tapi mau 'gimana lagi karena seram banget. Kami langsung check out malam itu juga dan pindah ke Win Hotel. Mumpung masih ada mobil, jadi lebih gampang pindah hotel.
Kata-kata bijak di Win Hotel
Kami check in di Win Hotel, taruh barang sebentar, lalu minta bapak supir mengantarkan ke Tunjungan Plaza. Kami berpisah dengan bapak supir di plaza itu. Saya dan Rezki mampir ke Rice Bowl untuk makan berhubung udah lapar dan capek banget. Selesai makan, karena kebetulan mau dekat Halloween, Tunjungan Plaza dekorasinya jadi banyak labu Jack 'O' Lantern. Berhubung saya juga mau ngirim kado, saya masuk ke gift shop yang barang-barangnya lucu banget. Bahkan solatip aja gambar semangka. Jadi semangat ngebungkus kado karena solatip lucu dan gift bag super cantik. Niat amat ngebungkus kadonya yah.

Kami nggak berlama-lama di Tunjungan Plaza karena memang udah capek banget dan badan pegal-pegal. Langsung pulang ke hotel dan tidurrr. Gile deh tepar banget hari itu. Besok paginya saya mandi dulu, sarapan, dan nyariin JNE yang dekat dari hotel. Duh, susah banget nyari JNE di Surabaya karena nggak ada di tiap tempat. Kalau di Depok atau di Jakarta, hampir di setiap jalan tuh ada JNE. Sampai keliling-keliling pakai Uber khusus nyari JNE. Yang nyebelinnya lagi, setelah saya kirim barang ke JNE, ternyata ada JNE disebelah salon yang mau saya kunjungi. Haduwh, udah abis keliling hampir seluruh kota Surabaya, eh malah ada di sebelah salon.
Mandi susu
Kalau ke Jawa memang harus nyobain SPA karena pijitannya oke banget. Ditambah lagi tempatnya tenang dan murah. Saya melakukan perawatan hair to toe di Alfafa Salon cuma sekitar Rp. 300rban udah termasuk pijat, lulur, creambath, mandi susu, dan seterusnya. Kayaknya kalau udah tugas ke Malang dan Surabaya tuh capeeeeek banget deh. Makanya kalau ke SPA itu rasanya senang banget, segar banget, enak banget di pijit-pijit. Setelah beres SPA, saya makan siang di bebek Slamet dan pulang bareng Rezki ke Hotel. Hari ini saya nggak sendirian nginep di kamar hotel karena teman abang saya Mbak Rimbun bakalan nginep.

Nanti saya ceritain ya gimana keseruan kita kulineran di Surabaya. Sampai jumpa!

November 29, 2016

Madakaripura Waterfall

Perjalanan selanjutnya adalah air terjun Madakaripura yang berada di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Air terjun ini adalah salah satu air terjun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kalau kalian berwisata ke Gunung Bromo, jangan lupa mampir ke tempat ini karena memang perjalanannya bisa dilakukan sekali jalan. Kami sempat berhenti dulu di tengah jalan untuk sarapan, baru deh menggunakan GPS menuju tempat ini. Jujur aja saya nggak tau bagaimana caranya kalau harus naik angkutan umum kesini.
Pose Gajah Mada
Sesampai di parkiran air terjun, beberapa orang langsung menghampiri kami untuk menyewakan jasa guide dan jas hujan. Mereka bersikeras kalau nggak pakai jas hujan nanti bakalan kebasahan dan kalau nggak pakai guide takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (tergelincir). Semula berharap sama bapak supir untuk menawar dengan menggunakan bahasa Jawa tapi tetap nggak ngaruh. Kami tetap dapat harga Rp. 100,000 untuk guide, Rp. 10,000 untuk jas hujan, Rp. 10,000 untuk ojek. Duh, mahal juga yah. Karena bakalan basah-basahan, saya mengganti sepatu kets dengan sendal jepit dulu, baru naik ojek.
Pose lagi
Kata Guide, perjalanan dari tempat parkir ke air terjun itu 4 km dengan medan berbukit, menanjak, dan menurun. Kalau jalan kaki terasa jauh banget. Duh, karena masih pegal dari Gunung Bromo tadi, kami menyewa ojek. Ternyata ojek cuma mengantar sejauh 2 km. Sisanya jalan kaki juga! Lama perjalanan kami mungkin sekitar 30 menit dengan naik turun tangga, jalan menanjak, dan menurun. Memang pemandangan alam yang disuguhkan subhanallah indahnya. Tapi tetap aja capeeeek. Mana nggak ada tempat untuk duduk walau hanya sebentar. Kalian juga harus berhati-hati karena takut ada bebatuan jatuh dari atas gunung.
Tiket masuk
Jembatan merah
Pemandangan indah
Alhamdulillah setelah itu kami mendengar suara gemericik air dan tampaklah air terjun dari sela-sela bukit. Masya Allah indahnya. Sepertinya memang perjalanan jauh dan lelah terbayarkan dengan hanya melihat air terjun begitu indah. Guide memang bilang kalau air terjun yang satu ini sangat indah. Dan setelah saya berkeliling 3 air terjun di Jawa Barat, 3 air terjun di Vietnam, Madakaripura adalah yang paling indah.
Air terjunnya sudah terlihat
Air terjun Madakaripura yang memiliki tinggi 200 meter ini merupakan air terjun tertinggi di Pulau Jawa dan tertinggi kedua di Indonesia. Air terjun ini berbentuk ceruk yang dikelilingi bukit-bukit yang meneteskan air pada seluruh bidang tebingnya seperti layaknya sedang hujan, 3 di antaranya bahkan mengucur deras membentuk air terjun lagi. Sejarah mengatakan kalau air terjun ini dulu tempat bertapanya Gajah Mada, makanya dikasih nama Madakaripura.
Pakai jas hujan
Air terjun
Untung saja saya dan Rezki beli jas hujan karena kita memang akan basah kuyup ketika melewati air terjun dan memang itu jalan satu-satunya. Kalau kalian mendongak melihat keatas, seolah-seolah air yang turun seperti tirai. Sungguh sangat indah. Ada 3 air terjun utama yang deras, dan juga digunakan untuk berenang dan mandi. Sebenarnya Guide mengambil banyak foto disini, tapi hampir semuanya nggak bagus. Padahal kamera saya udah saya setting dengan baik, eh dia sok tau ngubah-ngubah settingnya. Jadilah hampir semua hasil foto blur. Duh, saya bete sekaliiii.
Air terjun deras
Air dari tebing-tebing
Kalau kalian mau berwisata ke air terjun yang satu ini, saya sarankan pakai guide. Karena ada beberapa tempat kita harus naik ke bebatuan (seperti panjat tebing) dan harus dipegangin terus sama guidenya. Apa dia modus ya? Si Rezki bisa-bisa aja tuh naik ke bebatuan, hahaha. Saya suka berada di bawah percikan air terjun bahkan sampai terguyur banget. Walaupun pakai jas hujan untuk melindungi tas dan hp, tapi rasanya seneng banget.
Seperti tirai
Airnya jatuh ke bebatuan
Agak blur
Tiba-tiba ada petugas yang teriak suruh kita balik. Saya jadi agak panik kalau ada yang teriak-teriak begitu. Guide memang menyuruh kita untuk meninggalkan tempat ini sebelum jam 14.00. Karena sering terjadi hujan pada jam-jam segitu yang bisa mempengaruhi tingkat air di sekitar air terjun yang cukup berbahaya dan memungkinkan kita sulit meninggalkan tempat ini. Gerimis mulai datang dan kita harus segera pergi dari situ. Kami bertiga masih sibuk berfoto, lagian memang sampai ke air terjun ini udah siang sih. Jadi baru main sebentar, eh udah harus balik.
Balik dulu
Pemandangan indah
Perjalanan pulang jadi lebih melelahkan lagi. Selain karena udah lebih capek, basah pulak, mulai masuk angin, tapi senang banget. Mungkin resep awet muda memang harus sering jalan-jalan ya. Apalagi pemandangan pohon-pohon hijau dan udara luar biasa segar sangat menenangkan pikiran. Saya jalan kaki sambil ngobrol dengan Rezki sampai akhirnya ketemu ojek lagi. Kami diantarkan sampai mobil, lalu berpamitan pada guide dan orang-orang di sekitar sana. Perjalanan ke Surabaya pun dimulai.

November 27, 2016

The Incredible Mount Bromo

Sesuai dengan ayat Al-Qur'an berikut:
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk” (QS. Al Anbiya: 31)
Gunung Bromo
Sebegitu takjubnya saya melihat Gunung Bromo. Mungkin Bromo bukanlah gunung terbaik seantero Indonesia. Tapi melihatnya berdiri kokoh bersebelahan dengan gunung Semeru, Masya Allah indahnya. Mungkin saya memang nggak sering hiking. Selain karena punya asma, saya juga nggak tahan dengan perubahan kepadatan udara di tempat tinggi (di atas gunung udara lebih tipis). Bisa tiba-tiba sesak napas. Makanya seumur hidup saya baru hiking ke Puncak Sikunir dan Penanjakan Bromo ini. Sewaktu di New Zealand, kami ke puncak gunung es menggunakan helikopter dan itu agak curang sih. Cuma duduk manis, eh udah sampai ke puncak.

Sebenarnya saya udah booking hotel di Cemoro Lawang, tapi supir malah membawa kami ke Probolinggo. Saya nggak tau juga sih karena sepanjang jalan tidur dan nggak ngeliatin GPS sama sekali. Tiba-tiba sudah sampai ke sebuah desa bernama Tosari. Kami parkir di sebuah lapangan, lalu mencoba menawar penginapan dan jeep. Walaupun supir kami bisa berbahasa Jawa, tapi kok kayaknya nggak ngaruh juga ketika menawar harga. Mana orang desa sini tuh kurang ramah dan bersikeras nggak mau di tawar. Bikin bete. Mending nggak usah naik jeep deh.

Kami keliling kota dulu sampai akhirnya ketemu orang yang menawarkan penginapan Rp. 150rb permalam. Kamarnya lumayan sih, tempat tidurnya agak jadul, ada air panas, tapi nggak ada handuk. Jadilah saya cuma cuci muka doang disitu. Saya mengeluarkan jaket thermal, lalu keluar dari penginapan untuk jalan-jalan. Sempat menawar harga ojek untuk ke penanjakan Bromo dan berhasil mendapatkan harga Rp. 100rb sudah termasuk tiket masuk. Lumayan lah ya.
Akhirnya pakai jaket thermal lagi
Menjelang Magrib, kami naik mobil untuk ke desa sebelah yaitu Wonokitri. Suasananya mulai dingin, tapi jaket thermal ini oke banget deh. Jadi nggak terasa dingin sama sekali. Kami makan ayam bakar dan teh panas bertiga dengan total Rp. 75rb. Kirain bakalan cuma Rp. 50rban karena ini kan masih termasuk desa. Mungkin tau kali yah kalau kami adalah pendatang apalagi dari Jakarta ya dimahalin.

Kami kembali ke Desa Tosari. Saya dan Rezki jalan-jalan keliling kota untuk menenangkan pikiran. Sebenarnya kemaren saya lagi bete karena orang yang mau ditemuin di Malang tiba-tiba ngebatalin dengan alasan ada acara kantor. Masa' nggak tau sih ada acara kantor di tanggal segitu? Padahal janjian udah sebulan sebelumnya, dan udah ngatur jadwal meeting 3 orang untuk digeser. Ya sudahlah, i don't have time for anger, ego and jealousy. Bete itu bikin saya lari-larian keliling desa sampai si Rezki kecapekan ngejar saya (kok jadi kayak film India). Mana kami sama-sama anak asma lagi, cuma energi saya kalau lagi bete jauh lebih besar. Ditambah lagi saya mulai PMS, hahaha! Sabar ya Ki, makasih udah temenin di kala ke-bete-an memuncak.

Karena kecapekan lari-larian, jam 7.30 malam kami pulang ke penginapan dan tidur. Besoknya harus bangun jam 3 pagi untuk berangkat ke penanjakan Bromo. Untung saya tipe orang yang bisa langsung terlelap dalam keadaan apa pun sampai alarm berbunyi jam 3 pagi. Saya bangun, ke kamar mandi dan nyalain air keran, lho kok malah mati? Saya keluar kamar, bertanya pada tukang ojek yang ada di luar penginapan dan mereka nggak tau dimana saklar pompanya. Akhirnya supir kami membangunkan pemilik rumah dan menyuruh beliau menyalakan air. Saya hanya cuci muka, sikat gigi, dandan sedikit (biar kece pas di foto), pakai jaket thermal, dan jaket kulit merah (supaya kalau di foto keliatan mentereng). Kami naik ojek masing-masing dan perjalanan ke Penanjakan Bromo pun dimulai. Awalnya sih saya santai aja duduk di bonceng. Lama-kelamaan karena terlalu menanjak, pantat dan paha jadi pegal. 

Sempat berhenti sebentar untuk beli tiket masuk Taman Nasional Gunung Bromo, dan saya turun untuk meluruskan kaki. Setelah itu naik ojek lagi dan semakin menanjak. Duh, kapan sampenya ini? Paha dan pantat saya udah keram. Kami melewati Musholla yang dibangun bank Mandiri beberapa meter sebelum penanjakan. Hanya saja karena belum adzan, Mushollanya belum buka. Alhamdulillah akhirnya kami sampai di pintu masuk penanjakan. Saya turun dari motor pelan-pelan karena kaki saya udah kesemutan. Banyak banget orang yang nawarin sewa jaket walaupun udah ditolak berkali-kali. Mereka terus-menerus mendesak saya untuk menyewa jaket sekalipun saya bilang kalau jaket saya ini udah cukup tahan.

Kami naik beberapa anak tangga dan napas saya sempat terhenti. Nggak enaknya jadi penderita asma tuh ya gini. Kalau udah di ketinggian, udara menipis, kapasitas paru-paru semakin sedikit, jadilah saya ngos-ngosan banget. Saya sempat diam dulu mengumpulkan udara. Alhamdulillah nggak berlangsung lama sesak napasnya. Selanjutnya udah kayak biasa lagi. Sesampai di penanjakan Bromo, hari masih gelap, angin berhembus kencang, dan udara sangat dingin. Untungnya jaket saya udah oke banget. Saya jalan-jalan kayak biasa kesana-kesini untuk mencari spot foto terbaik. Si Rezki yang kasihan udah hampir beku dia ketika berdiri di pagar. Beberapa saat kemudian, cahaya matahari pun mulai bersinar.
Sunrise
Gunung Bromo 
Cemoro Lawang dari Penanjakan Bromo
Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu), adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Gunung ini menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Peta gunung
Bentukan Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Sayangnya, BMKG memperingatkan kita nggak boleh turun ke gunung atau mendekat kesana karena kawahnya masih aktif. Gunung Bromo ini bisa kapan saja memuntahkan laharnya. Jadi seram tapi sedih juga karena nggak bisa turun ke kawah.

Puas mengambil foto di Penanjakan, kami turun ke warung-warung untuk makan indomie pakai telur dan teh manis panas. Kami harus membayar Rp. 20rb untuk paket begituan doang. Gile yah, udah komersil banget nih Bromo. Setelah makan, saya dan Rezki naik ojek lagi untuk turun gunung. Abang ojek menyarankan kami untuk ke bukit cinta karena bisa melihat Gunung Bromo lebih dekat disana. Saya sih nurut aja, tapi trekking ke bukit cinta lumayan capek juga. Jalanannya nanjak banget dan terjal banget. Duh, badan udah mulai remuk redam.
Mari mendaki
Foto dulu
Tampak lebih dekat
Saya agak takut juga berfoto di bukit cinta, karena memang tempat foto paling bagus harus di luar pagar pembatas. Sambil berdoa dan agak merangkak, saya beranikan diri untuk duduk di bukit dengan pemandangan langsung ke gunung Bromo. Selesai berfoto, kami kembali ke penginapan. Sempat beberapa kali berhenti juga sih untuk mengambil foto.
Pose kalender
Sesampai di penginapan, kami beberes baju dan koper lalu langsung memasukkannya ke dalam mobil. Kami mau menghemat waktu, jadi memang langsung pergi setelah puas mengambil foto Bromo. Suatu hari saya akan kembali lagi karena belum sah rasanya karena belum naik ke kawah. Baiklah, tujuan selanjutnya adalah Air Terjun Madakaripura yang harus kami lalui dengan jalan berkelok-kelok yang membuat saya hampir muntah.

Ditunggu ceritanya :)

November 26, 2016

Kuliner dan Tempat Wisata di Malang

Berhubung sebentar lagi sudah bulan Desember, antrian postingan masih seperti ular naga panjangnya, dan saya semakin sibuk. Saya sudah menargetkan diri saya untuk selesai memposting cerita perjalanan ke Surabaya, Pulau Madura, dan Malang sebelum Desember. Bulan depan saya bakalan full memposting tentang 2 e-commerce yang bakalan saya launch dan beberapa clothing line juga. Belum lagi banyak sekali cerita pendek tentang kehidupan saya yang ingin saya posting juga. Baiklah, mari kita lanjutkan.

Saya akan memposting 5 tempat nongkrong dan tempat berwisata di Malang yang sudah saya kunjungi kemarin. Kayaknya saya bakalan sering memposting tentang Malang karena ada beberapa bisnis di kota itu. Ada rencana juga tahun depan mau buka perusahaan disana demi memudahkan kita tembus BPOM untuk produk snack yang juga akan kita luncurkan bulan depan, Insya Allah.

1. Labyrinth Terrace n Lounge
Kenapa memilih Resto ini? Awalnya sih kita acak aja mau nongkrong dimana. Tapi setelah melihat-lihat Cafe dan Resto di sekitar jalan Merbabu Malang, pilihan kami jatuh pada Labyrinth karena ada banyak bule' nongkrong disini. Tempat ini juga memiliki konsep Resto & Bar (konsep favorit saya). Ya udah deh, langsung mampir. Lokasinya berada di jalan Merbabu no. 11.
Meja bar
Mozariella Goreng
Katanya Resto yang satu ini baru buka. Kalian bisa memilih mau duduk di luar apa di dalam. Saya sih lebih suka di luar, sekalian menikmati angin malam. Kami berempat memesan makanan yang sama, yaitu Nasi Goreng dan minum teh hangat. Kami juga memesan mozariella goreng sebagai cemilan. Untuk makanan memang standar aja sih disini. Suasana resto juga lumayan tenang karena mungkin besok masih hari kerja, jadinya jarang ada yang nongkrong.

2. Monopoli Cafe & Resto
Kami memutuskan untuk nyari Cafe lain untuk nongkrong. Sekalian menambah panjang daftar Cafe yang pernah kami kunjungi di Malang. Lama-kelamaan main ke Malang udah seperti main ke Bandung, saking seringnya. Tempat yang akan kami datangi berikut ini hanya jalan kaki beberapa meter dari Labyrinth Resto. Lokasinya berada di Jalan Merbabu no. 21. 

Saya nggak memiliki foto Cafe ini sama sekali karena waktu kesini kami serius banget membahas proyek keripik pisang yang akan kami rilis ke pasaran di bulan Desember nanti. Tempatnya lumayan cozy, minumannya enak, harga minuman nggak begitu mahal, bahkan ada live music, padahal bukan weekend. Hanya saja pelayan Cafenya agak cuek. Sewaktu minuman saya nggak sengaja tumpah, saya panggil mbaknya untuk minta tolong di lap karena lengket banget. Mbaknya cuma liat doang dan nggak mau ngelap. Saya panggil lagi, eh tetep dicuekin. Ya sudah deh.

3. Minum Susu Jahe di Alun-alun Batu
Mungkin ungkapan The Night is Still Young berlaku untuk kami bertiga malam itu di Malang. Sepulang dari Monopoli Cafe, kita lanjut nongkrong di Alun-alun Batu cuma buat menikmati suasana yang dingin-dingin kayak di Bandung. Benar saja, malam itu mulai dinginnnn. Kami langsung duduk di sebuah warung untuk minum susu jahe panas, sekalian ngobrolin bisnis lagi. Nggak habis-habis obrolan bisnisnya yah. Sayangnya, Too Many Ideas, Too Little Time (terlalu banyak ide, terlalu sedikit waktu). Tenaga juga lumayan terbatas. Jadi sering lelah hayati, hahaha.

Sekitar jam 12 malam, ketika mulai banyak orang berkumpul di sekitar warung dan pada merokok (saya nggak tahan sama rokok), barulah kami kembali ke Hotel.

4. Peternakan Kuda Megastar
Kami check out hotel lagi. Sepertinya pindah-pindah hotel merupakan style saya kalau jalan-jalan. Sewaktu di Makassar menginap 4 malam di 4 Hotel yang berbeda. Sebenarnya tujuan awal hari ini mau ke Museum Angkut. Sayangnya, museum itu baru bukan jam 12 siang dan kami masih harus melihat bunga matahari di Peternakan Kuda Mega Star, Jl. Langsep, Oro-Oro Ombo, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65311.
Mari berkuda
Bunga kertas
Agak sial kesini karena bunga mataharinya baru aja di panen seminggu sebelum kesini. Yang tersisa hanya bunga kertas. Dulu pas ke Malang, saya juga gagal melihat bunga matahari karena daerah sini lagi longsor. Nggak rejeki berarti. Kami jadinya main ke kandang kuda. Sebenarnya saya lumayan takut sama kuda. Tapi saya tetap berusaha santai. Beberapa kuda di peternakan ini merupakan kuda pacu, sehingga dari segi fisik kudanya kekar banget dan tinggi. Saya semakin seram untuk mengelus wajah kudanya, walaupun kata petugas kudanya baek. Sempat diajakin untuk menunggang kuda, tapi saya tetap nggak berani.

5. Rawon Rampal
Karena kami kelaperan, sebelum mengantar Khanti ke bandara, kami makan Rawon dulu di Jalan Panglima Sudirman No.71A, Klojen, Kesatrian, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65111. Telepon: (0341) 369304. Kalian tau. rasa rawonnya enakkkkk banget. Kuahnya gurih, dagingnya super empuk, sambalnya pas pedasnya bikin nagih. Pokoknya ini adalah Rawon terenak yang pernah saya makan deh.
Rawon enak
Setelah makan, kami mengantar Khanti ke bandara yang harus pulang duluan karena katanya mau ke Aceh. Akhirnya saya, Rezki, dan bapak supir berangkat menuju Probolinggo untuk berwisata ke tempat paling keren se-Jawa Timur, yaitu Gunung Bromo. Sampai jumpa!

Kegiatan di Batu, Malang

Rabu pagi di Batu, Malang. Kota yang satu ini memang enak banget suasananya di pagi hari. Lebih tepatnya, suasana bikin males. Jangankan mau mandi, keluar kamar buat sarapan aja malas. Tapi tetap sarapan juga sih, kan lapar. Suasana di ruang makan dengan pemandangan gunung-gunung dan kota yang sedikit berkabut bikin betah. Duh, kalau bukan karena ke Batu ini untuk urusan bisnis, saya mau masuk kamar lagi, tidur lagi, atau di ruang makan aja lama-lama sampai waktunya makan siang. Hotel Seulawah Grand View ini memang bikin 'pewe' banget deh. Oh ya, Hotel ini punya orang Aceh, jadi kalian bisa melihat nama-nama ruangannya seperti nama provinsi di Aceh.

Cukup sudah bermalas-malasan dan makan banyak, kami mandi dan berkemas untuk check out. Waktu itu mau book 2 malam di hotel ini, tapi sayangnya malam kedua malah nggak available. Jadilah kita pindah hotel. Tujuan pertama pagi ini adalah menjumpai Bu Yayuk, salah satu ketua UMKM. Kami janjian ketemuan jam 9 pagi di Alun-Alun Batu, tapi beliau baru datang jam 10. Selagi menunggu, kami makan ketan di Pos Ketan, sambil bernarsis ria di Instagram Story, hahaha. Setelah Bu Yayuk datang, kami meninjau kebun yang pernah saya datangi pada bulan September dulu. Saya memang berjualan tanaman di Tokopedia dan Bukalapak dengan harga murah, hihihihi (promosi).
Pucuk merah
Lokasi siap semai
Hampir panen
Bunga Peacock
Kebun mawar 
Meninjau lahan
Saya sengaja membawa Khanti dan Rezki ke Batu untuk sekalian bertukar-pikiran tentang bisnis di Batu. Mereka juga takjub melihat kebun bunga mawar sebanyak itu dan hampir semua bunganya mekar. Belum lagi bunga peacock penuh yang mekar terlihat seperti di luar negeri. Yang asyiknya bawa teman adalah bisnis trip menjadi seperti liburan. Kami ketawa bareng, foto-foto bareng, dan berpikir untuk membangun sebuah bisnis bersama. Sekalian menyerbu pohon buah blackberry bareng-bareng. Baru kali ini saya makan blackberry langsung dari pohonnya dan ternyata enakkkk banget ya.
Menyerbu blackberry
Selesai jalan-jalan keliling kebun, kami istirahat di mesjid sejenak, lalu mampir untuk makan siang. Kali ini Bu Yayuk membawa kami ke saung dengan kolam ikan yang suasananya enak banget untuk berleyeh-leyeh sambil makan siang. Kok semua tempat di Batu menawarkan gaya leyeh-leyeh santai yaaa? Menu makanan di Saung ini sih biasa aja, cuma ikan gurame bakar, sambal, tahu, nasi, standar-lah ya. Rasa makanannya juga biasa aja. Cuma harganya agak mahal.
Makan siang kita
Selamat makan
Kami mengunjungi rumah Bu Yayuk setelah makan siang, sekaligus mau nyobain keripik yang beliau jual yang katanya enakk banget. Saran saya kalau kalian mau mencoba makanan itu enak apa nggak, cobainnya setelah makan kenyang. Perut kami kenyang banget tuh karena makan siang, nah pas cobain keripik kan jadi tau ini enak apa nggak. Ternyata keripiknya memang enak banget. Bahkan kami disuruh cobain berbagai varian dan alhasil perut ini seperti mau pecah. Udah nggak kuat makan lagi. Kepala juga udah pusing karena kecapek'an kali yah.
Pusat UMKM
Keripik dan snack
Setelah dari rumah Bu Yayuk, kami check in Pondok Jatim Park Hotel. Kepala rasanya pusing banget dan saya jadi agak flu. Jadilah saya tidur siang terlebih dahulu, baru melanjutkan aktivitas. Teman saya Rezki sengaja mau main ke waterboom di Jatim Park dulu karena mungkin cowok energinya lebih banyak. Saya dan Khanti sih udah tepar di kasur.

Setelah tidur siang dan flu mulai reda, kami mandi, dandan, dan siap jadi Anak Gaul Malang (AGM). Ok, nanti saya tulis ya. Ketika memposting tulisan ini juga saya sedang flu berat. Kepala pusing, hidung meler, dan demam. Udah lama nggak sakit. Kayaknya terakhir pas bulan puasa. Doakan saya cepat sembuh. Aminnnn...
Bersiap nongkrong

Categories

adventure (256) Living (234) Restaurant (146) Cafe (138) Hang Out (131) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (80) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (46) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan