September 24, 2016

Perkebunan di Batu

Tujuan utama ke Malang adalah mau melihat kebun. Kebun apa? Bunga? Sayur? Buah? Semuanya. Gile yah, dari sarjana Teknik Informatika, kerja jadi konsultan IT, giliran resign jadi petani, hihihi. Eits, jangan salah. Indonesia termasuk negara dengan lahan pertanian dan perkebunan terluas di dunia. Dan kalian akan takjub kalau tau setiap jengkal lahan yang menghasilkan bunga, buah, dan sayur, bernilai $$$$. Jadi, masih nggak mau jadi petani?

Mungkin karena keenakan tidur di hotel dengan double bed sendirian lagi, jadi agak susah bangun. Awalnya pas malam saya tidur di tengah-tengah ranjang, giliran bangun udah di pinggir ranjang. Waktu shalat Shubuh di Malang jam 4 pagi dong dan saya dengan berat hati harus bangun, shalat, dan tidur lagi. Sewaktu bangun lagi, langsung syok kalau Yoyok teman saya sedang on the way untuk menjemput saya. Paling nggak enak kalau syok, liat handphone low battery, dan harus buru-buru mandi. Semalem saya tidur jam 12 malam, jadi wajarlah ya kalau telat bangun.

Yoyok adalah teman saya sewaktu di komplek PIM dulu. Terakhir ketemu dia tahun 2009 dengan gayanya yang nyentrik banget. Alhamdulillah sekarang dia udah kayak Pak Ustadz, hahaha. Kami menyewa mobil Toyota Avanza seharga Rp. 350rb perhari termasuk supir (orang Flores). Kalian bisa membayangkan orang Aceh, orang Jawa, dan orang Flores dalam satu mobil. Walaupun logat saya sudah berubah jadi agak betawi, saya balikin lagi ke logat Aceh, dan hasilnya kami ketawa melulu selama di perjalanan. Asyiknya lagi karena sopirnya masih mahasiswa dan gaul banget, jadi nggak bosan deh di mobil.
Roses nursery
Perjalanan ke Batu hanya setengah jam dari Malang. Mungkin karena nggak macet karena saya berangkat kesini pas hari kerja. Katanya sih kalau weekend macet banget, seperti orang Jakarta yang mau ke puncak. Saya masih membayangkan kalau macet ke puncak sih udah nggak gerak. Sesampai di Batu, kami langsung meluruskan niat mau ke kebun yang sudah saya stalking dari beberapa bulan yang lalu dan sampailah kami kesana.
Mawar warna-warni
Mulai mekar
Mawar kuning
Saya takjub melihat perkebunan mawar potong selereng gunung. Luaassss bangetttttt. Subhanallah! Saya terdiam, takjub, dan teringat kartun Candy-Candy dulu yang dimana Pangeran Antoni punya kebun mawar (kok saya masih ingat). Saya berjalan kesana-kemari menikmati kebun bunga sampai lupa tujuan utama kesini kan mau menjalin kerjasama. Akhirnya saya ngobrol sama seorang petani, menginterviewnya, dan minta dipotongin bunga mawar, hahaha. Bagus banget sihhh....
Bunga Peacock
Bunga pink ke ungu-unguan
Putih
Pucuk merah
Kopi
Tomat
Hari itu saya banyak mengobrol dengan para petani. Saran saya sih kalau kalian mau berbisnis perkebunan, pedekate dulu ke petaninya. Buat mereka nyaman. Waktu itu ya, saking berhasilnya pedekate dengan petani, sampai dipotongin satu bucket bunga mawar warna-warni, dan diajak makan siang. Saya udah nolak berapa kali tapi beliau maksa saya untuk menyantap makan siang buatannya. Duh, saya jadi nggak enak. Tapi nggak bisa nolak juga, ya udah deh. Lauknya juga enak, pepes ikan yang agak pedas, ikan asin, sayur, dan kerupuk. Sayurnya langsung dari ladang, hmmm enyak-enyak.
Timun ungu
Di suruh makan siang
Sambil menunggu Yoyok shalat Jumat, saya tetap berkeliling kebun sendirian dan menemukan berbagai macam bunga. Tapi disini nggak ada sayur-mayur. Bahkan mereka nggak menjual bibitnya juga. Aneh sekali. Kalau kalian mau survey kebun, pakailah topi, kacamata hitam kalau bisa yang untuk glare protect karena puanaassss dan silauuuu buangettt! Untuk muka sih saya selalu pakai Cushion Makeup dengan SPF 50 PA+++ tapi kalau tangan dan kaki malah lupa pakai sunscreen. Jadi belang banget, hahaha.
Petani sayur
Interview
Bunga mawar
Setelah Yoyok datang dan sudah jam 2 siang, kami pun pamit pulang. Kesalahan saya disini adalah hanya meminta nomor handphone satu petani saja dan sudah percaya kalau dia bisa diajak kerjasama. Kenyataannya malah bikin repot. Bulan depan saya balik lagi dan nggak akan melakukan kesalahan yang sama. Destinasi selanjutnya adalah kebun bunga matahari. Karena lahan bunga tiba-tiba longsor, jadi tempat ini di tutup sementara untuk umum. Waduh, sayang banget. Oh ya, waktu itu di Batu cuacanya aneh. Dari panas banget, tiba-tiba berubah mendung dan hujan mengguyur sangat deras. Terpaksa nggak bisa melanjutkan survey kebun. Kami melanjutkan survey besok lagi.

Hari Sabtu, saya check out Solaris Hotel karena bakalan pindah ke Best Western OJ Hotel Malang. Ternyata saya nggak bisa pulang cepat dan akhirnya membeli tiket pesawat untuk pulang hari Senin. Lumayanlah bisa lebih lama di Malang. Saya sempat mengira bakalan macet ke Batu karena weekend, tapi taunya jalan lancar. Rejeki anak sholehah, hahaha.
Apel Malang
Pertama saya ke kebun apel, berharap bisa ada pohon kecil apel yang bisa diperdagangkan. Nyatanya, hanya kebun petik apel biasa. Saya baru tau kalau apel Malang itu kecil dan kuning. Maklumlah, ke Malang aja baru kali ini. Selama saya berjualan pohon apel, saya baru tau ada apel jenis ini. Biasanya hanya jenis-jenis seperti Jonathon Apple, Granny Smith, dan lainnya. Lahan di sekitar kebun apel juga nggak bagus dan kurang subur. Saya jadi nggak tertarik. Untuk masuk ke kebun Apel, kalian harus bayar Rp. 25,000 sekalian bisa petik apel sepuasnya.
Menyusuri kebun apel
Tukang bibit di depan kebun apel
Setelah puas di kebun apel, saya bertanya kepada petani disitu dimana kebun sayur. Katanya sih kalau mau ke kebun sayur agak ke puncak gunung. Jadilah kami melanjutkan perjalanan dari Batu terus naik sampai saya bisa check in Path di Coban Talun. Jujur saja saya nggak tau sama sekali ini dimana. Mulai banyak kebun teh, udara jadi lebih dingin, dan mulai agak redup suasananya. Tadinya saya mengira salah kostum, karena salah pakai baju heattech (sejenis long john untuk musim dingin) sebagai dalaman karena baju saya jaring-jaring. Ternyata untung juga pakai baju ini karena bisa menghangatkan tubuh.
Lahan kubis
Kebun wortel
Anak Kubis
Di daerah ini, saya hanya bisa bertanya ke orang-orang dimana kebun sayur. Mereka mulai menunjukkan arah kesini dan kesana tapi nggak ada yang pas. Rata-rata kebun sayur disini bukan untuk pembibitan. Saya jadi malah jalan-jalan keliling kebun sawi, wortel, kubis, paprika, dan sebagainya. Yang paling unik ketika masuk ke Green House paprika karena langsung pedesss di mata, hahaha. Saya sampai ngedip-ngedip mata bahkan pakai kacamata hitam lagi dan nggak mempan. Ada-ada aja.
Pose dulu
Selfi dulu
Jamur pohon
Green House Paprika
Selebihnya saya disini hanya mengobrol dengan petani dan balik lagi ke Batu. Di Batu, saya membeli beberapa Lucky Bamboo yang dipercaya mendatangkan keberuntungan. Saya sih beli bukan karena hoki juga sih, tapi karena memang tanamannya unik dan bisa tumbuh di dalam ruangan. Saya beli 3 pohon, 2 bambu hijau dan 1 putih. Setelah itu baru deh pulang. Cuma jalan-jalan begini doang bisa menghabiskan waktu setengah hari lho. Badan langsung capek banget. Sewaktu check in hotel, saya langsung menghempaskan tubuh ke kasur sejenak sebelum akhirnya mandi dan lanjut bekerja.
Lucky Bamboo
Nanti saya lanjutkan cerita lagi ya, sampai jumpa!

September 23, 2016

Pertama Kali ke Malang

Sehari setelah resign dari kantor yang saya cintai, Metrodata, saya langsung terbang ke Malang. Sebenarnya agak mendadak, seharusnya saya sudah ke kota ini bahkan sebelum saya ke New Zealand. Sayangnya mengurus ini itu untuk New Zealand, belum lagi nyari teman disana agak susah, ya udah deh baru bisa di realisasi tanggal 1 September kemarin. Saya hanya beli tiket pesawat pergi saja dan hanya membooking hotel Solaris untuk 2 malam (ada diskon dari Travelio.com bikin hotel jadi murahhh banget). Walaupun nyatanya malah menghabiskan 4 malam di Malang dan pindah ke Best Western OJ Hotel Malang.

Saya sengaja beli tiket pesawat agak siang karena pasti kalau pergi pagi kena macet dan semalem sebelum saya ke Malang, ada acara Farewell yang membuat saya harus pulang malam. Belum packing sama sekali lagi. Setelah shalat Shubuh, saya ambil koper 25 kg yang belum selesai diberesin sepulang dari New Zealand, masukin semua barang yang mau di bawa ke Malang, bahkan saya nggak mengeluarkan thermal jacket. Buat apa coba thermal jacket? Mungkin terlintas di pikiran saya mau escape ke Bromo, hahaha. Awalnya mau bawa sepatu boots karena mau ke ladang, tapi takut kepanasan kakinya. Akhirnya pakai sepatu kets aja. Setelah semua barang-barang (kayaknya) beres, saya kunci koper, mandi, dan langsung berangkat ke bandara. Saya bahkan malas dandan. Habis mandi, pakai kerudung biasa aja, pakai bedak sedikit, langsung nge-uber ke Halim Perdana Kusuma Airport. Sesampai di bandara, saya cek in, lalu masuk ruang tunggu. Baru kali ini saya naik Citilink di Halim yang kebetulan ruang tunggunya beda dengan Batik Air (pulang ke Banda Aceh pakai Batik Air terus). Saya juga bisa melihat deretan pesawat jet pribadi (private jet) dan berdoa semoga suatu hari punya satu. Aminnn...
Ya Allah kasih satuuuu
Perjalanan ke Malang ditempuh dalam waktu 1 jam 10 menit. Sempat pesan makan di pesawat, lalu setelah itu saya hanya tidur aja sepanjang penerbangan dan nggak peduli apa pun. Pokoknya tiba-tiba udah sampai aja. Bandara Abdul Rachman Saleh agak kecil. Mau mengambil bagasi juga agak susah karena mejanya tinggi. Kalau tau begini maunya bawa koper kecil aja, hahaha. Saya lalu ke loket taksi dan membayar tarif  Rp. 80,000. Sewaktu buka dompet, baru sadar kalau duit di dompet sisa Rp. 100,000. Waduh, kenapa saya lupa ambil duit tadi? Saya hanya bisa berdoa supaya nggak ada pengeluaran dadakan aja sepanjang jalan.

Perjalanan saya menuju hotel agak menegangkan. Saya mengira bakalan melalui jalan besar seperti jalan tol untuk menuju pusat kota. Ternyata saya hanya melewati hutan tebu di sepanjang jalan bahkan hampir nggak ada habisnya. Saya sempat ragu apa ini jalan yang benar menuju hotel, atau nggak. Sampai-sampai saya buka GPS dan alhamdulillah jalannya benar. Nggak sampai 30 menit saya sudah sampai ke hotel. Mungkin bapak supirnya lewat jalan pintas kali ya.

Sesampai di Solaris Hotel, saya cek in dan kerja dulu seperti biasa. Di sela-sela kerja, saya sempat berpikir, biasanya saya jalan-jalan kemana pun pasti bersama teman (keluarga atau karyawan) dan sekarang sendiri. Hari ini juga saya menjadi full time entrepreneur. Sebenarnya ada perasaan gimanaaa gitu, agak takut kalau nanti stress karena nggak ngapa-ngapain. Ternyata, sampai tanggal hari ini saya super sibuk. Tidur selalu diatas jam 11 malam, tapi saya menikmatinya. Berbeda dengan harus lembur di kantor sampai jam 12 malam dulu, saya jadi merasa capek banget dan nggak sukaaa banget. Semoga menjadi awal yang baik.

Baiklah, saya hanya akan menulis 4 postingan tentang Malang. Postingan ini satu, kedua tentang kebun, ketiga tentang kuliner, keempat tentang santai-santai di Malang sampai pulang ke Jakarta. Sampai jumpa...

September 18, 2016

Kesimpulan Perjalanan ke New Zealand

Baiklah, ini adalah postingan saya yang terakhir tentang New Zealand. Berhubung saya masih harus bedrest karena kecapekan nggak pernah istirahat sejak pulang dari New Zealand, lanjut ke Malang, lanjut ke Makassar, dan akhirnya harus istirahat total dan bisa menyelesaikan seluruh tulisan saya tentang negara Lord of The Ring. Setelah ini masih banyak banget antrian tulisan yang harus di posting. Pokoknya sebelum tanggal 28 September 2016, semua postingan harus kelarrrr. Insya Allah!
Hobbiton
Visa
Dari semua negara menggunakan Visa yang pernah saya datangi, New Zealand adalah yang paling mahaaaal visanya. Kebayang 'kan harus membayar Rp. 1,910,000 untuk single trip. Kalau kalian sudah berkeluarga, Visa Selandia Baru justru bisa membuat lebih irit karena satu formulir (bisa diisi seluruh anggota keluarga) hanya membayar harga satu Visa saja. Teman saya Anis membayar 1,9 juta untuk bertiga.

Road Trip
Kalau biasanya perjalanan saya ke berbagai negara identik dengan ekplorasi kota, kali ini saya mencoba hal baru yaitu melakukan road trip atau menyewa mobil dan menyetir dari ujung Pulau Utara sampai ke ujung Pulau Selatan. Kalian nggak usah berharap bakalan menemukan Subway, MRT, atau kereta lintas kota di New Zealand. Palingan kalian hanya akan menjumpai Tram di Christchurch dan Kiwirail untuk melintasi Arthur Pass menggunakan kereta dengan dinding kaca. Saya sih nggak naik Kiwirail karena kayaknya tetap lebih seru menyetir. Selandia baru juga memiliki pemandangan yang subhanallah indah. Kalian bisa menikmatinya di setiap sudut jalan.
Toyota Highlander
Yang harus diperhatikan juga kendaraannya. Jangan salah, menyetir di New Zealand nggak semudah yang kalian bayangkan. Jalan di negara ini memang mulusss banget. Tapi hati-hati karena banyak salju, jadinya licin. Belum lagi medannya berbukit-bukit, kadang berkerikil, dan berkelok-kelok. Kalau mau menyetir malam hari, nggak ada lampu jalan. Kalian harus ekstra hati-hati karena terkadang kalau menyetir pakai mobil tangguh seperti Toyota highlander, Land cruiser, atau Range Rover, malah keenakan nyetir terlalu cepat. Padahal maksimal kecepatan mobil di negara ini adalah 100 km/jam dan kami pernah menyentuh angka 180 km/jam. Luarrr biasa!
Pemandangan dari dalam mobil
Belanja-belanji
Nggak mungkin kan kalau udah pergi ke luar negeri nggak belanja. Nah, bersiaplah menguras isi dompet sangat dalam karena semua barang disini mahaaal dan baguuuss. Kalian pasti tergiur membeli jaket dari bulu domba, sepatu kulit, aneka art souvenir, coklat, permen, magnet kulkas, dan gantungan kunci yang semuanya mahaaal. Pokoknya sekali belanja akan menghabiskan minimal Rp. 500rb sampai berjuta-juta. Apalagi kadang saya tergiur untuk menggesek kartu kredit dimana pun kapan pun dan agak syok ketika melihat tagihannya.
Toko Souvenir di Hobbiton
Toko Souvenir di Rainbow Spring
Kuliner
Semua makanan di New Zealand enaaaaak bangeeeet. Segala jenis roti gandum enaaaak. Daging sapi super enak karena biasanya kalau di Jakarta kita harus membayar mahal untuk mendapatkan daging sapi New Zealand. Ikan salmon di negara ini udah seperti ikan tongkol di negara kita. Ayam juga enakkk, kerang ijo enaakk, kalau mau minum susu segar juga banyak, buah-buahan seperti kiwi banyak dan manis. Pokoknya Selandia Baru adalah surga makanan enaaaak menurut saya. Tapi jangan salah, ada rasa ada harga. Semua makanan disini harus dibayar dengan harga minimal $7 (hanya sepotong kue jahe). Es krim aja $15. Kalau mau makan siang, biasanya per porsi $12 - $25. Bangkrut ya!
Es krim $15
Kerang ijo $25
Buffet di Mitai Maori $161 sudah termasuk atraksi
Budget
Nah, ini pasti yang kalian tunggu-tunggu kan. Baiklah, mari disimak. Saya akan menuliskan untuk biaya perorang ya karena sudah dibagi 4. Nulisnya agak sakit hati, hahaha.

Pesawat:
Jakarta - Kuala Lumpur PP + Bagasi Rp. 1,540,500
Kuala Lumpur - Auckland PP Rp. 3,348,642
Bagasi 30 Kg + Makan Rp. 2,565,015
Air New Zealand Wellington - Christchurch Rp. 1,204,820
Jetstar Queenstown - Auckland Rp. 883,682

Hotel:
Auckland Rp.403,510
Te Anau Rp. 325,627
Queenstown Rp. 458,155
Christchurch Rp. 363,387
Rotorua Rp. 408,922
Fox Glacier Rp. 365,025

Sewa Mobil Toyota Higlander Rp. 4,754,060
Bensin Rp. 1,016,500
SIM International Rp. 250,000

Wahana:
Southern Helikopter Rp. 2,547,455
Hobbiton Rp. 774,459
Rainbow Spring Rp. 440,642
Mitai Maori Village Rp. 1,137,180
Skyline Stratosfare Restaurant Rp. 835,895

Visa Rp. 1,910,000

Total Rp. 25,533,475 (ini belum belanja dan makan yang mungkin bisa mencapai Rp. 10 juta)

Semoga bisa menjadi panduan kalian dalam melakukan perjalanan ke Middle Earth, negara yang sungguh luar biasa indah. Doakan saya mau roadtrip ke Swiss atau Iceland kalau ada duit. Kalau nggak tahun depan, ya tahun depannya lagi, atau 3 tahun lagi. Sampai jumpa :)

Going Back to Indonesia

Kami akan memulai perjalanan panjang untuk kembali ke tanah air. Pagi itu kami bangun, lalu beberes, dandan, dan mengeluarkan koper untuk dinaikkan ke dalam mobil. Seandainya saja di Motel ini ada microwave, saya mau menghangatkan Fergburger yang masih ada sisa kemarin. Tapi karena dapur dan kamar motel agak jauh, saya jadi malas. Ya udah deh, jadi mubazir karena burgernya nggak dimakan setengahnya.

Pagi itu pemandangan di depan Motel sangatlah indah. Ada beberapa deret campervan dan gunung-gunung dengan puncak bersalju jadi membuat saya ingin berfoto. Buat kalian yang ingin mencoba full road trip dan nggak nginap di hotel, kalian bisa sewa Van. Sebenarnya ada asyiknya juga sewa van karena kalian bisa berhenti di camping ground yang terkadang berada di tepi danau atau di kaki gunung. Kalian bisa dengan leluasa melihat bintang-bintang yang bercahaya indah juga. Karena kemarin ketika saya pergi masih peralihan musim dingin, Anis lagi hamil, dan bawa Alys yang berusia 3 tahun, kami nggak bisa naik Van. Apalagi, saya memang nggak suka kalau harus buang air di mobil, trus nanti kalau ada tempat pemberhentian, kita harus bersihin sendiri toiletnya. Hiii, nooo!
Deretan Van
Karena Anis masih mau belanja buat guru-gurunya Alys di sekolah, kami kembali lagi ke toko souvenir kemarin. Duh, saya udah menahan-nahan supaya nggak belanja, eh malah belanja lagi deh. Ntah berapa duit habis untuk oleh-oleh. Selanjutnya kami berangkat ke bandara Queenstown. Ada salah satu jalan yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat dan membuat saya deg-degan ketika duduk di dalam mobil. Untung mobilnya keren banget, ah semoga bisa beli mobil ini suatu hari. Aminnn.

Sesampai di bandara Queenstown, kami masuk ke parkiran rental car untuk mengembalikan mobil. Selamat tinggal mobil keren, hiks. Kami lalu mengembalikan kunci dan petugas di konter Thrifty nggak bertanya apa-apa, langsung menerima kunci aja. Padahal kami mengembalikan mobil dalam kondisi bensin yang tinggal sedikit. Mungkin nanti di charge ke kartu kredit saya kali ya. Kami kemudian cek in Jetstar untuk kembali ke Auckland karena penerbangan kembali ke Indonesia dari Auckland. Koper saya beratnya pas banget 30 kg, untung aja nggak kelebihan bagasi. Saya sempat melihat-lihat jaket Icebreaker yang mau saya beli untuk adik saya, tapi mahal banget disini. Ya sudahlah, mungkin di Auckland nanti ada jaket yang lebih murah. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun boarding. Penerbangan dari Queenstown ke Auckland memakan waktu 1 jam 45 menit dan kami tiba pukul 1.30 siang.

Karena mendarat di terminal domestik, kita harus pindah terlebih dahulu ke terminal internasional bandara Auckland. Jalannya lumayan jauh, walaupun kita tinggal mengikuti petunjuk jalan aja sih. Tapi dengan mendorong troli, apalagi koper Anis kan gede-gede dan beberapa kali jatuh, jadi agak susah juga kalau harus jalan jauh begitu. Mana jalannya berkelok-kelok. Sesampai di terminal internasional, konter cek in AirAsia belum buka. Jadi kami naik dulu ke lantai 2 bandara karena mau makan siang. Udah lapar banget nih. Karena ini hari terakhir di New Zealand, saya cuma mau makan makanan negara ini. Saya pesan jus kiwi dan sandwich salmon kesukaan saya walaupun ada juga KFC dijual di bandara. Rasa roti di New Zealand memang super enak. Udah nggak diragukan lagi deh. 
Makan siang
Selesai makan, kami mendorong troli menuju toko jaket Ice Breaker. Tiba-tiba ada yang jatuh dari langit-langit bandara dan ternyata pup burung kena ke tas ransel saya. Saya dan Anis mendongak melihat ke atas lalu tertawa ngakak dulu, baru melapnya dengan tisu basah. Ada-ada aja tuh burung malah pup pulak. Kami lalu mampir ke toko Ice Breaker dan melihat beberapa jaket ada yang diskon dari $430 jadi $260. Ya sudahlah saya beli juga akhirnya. Sewaktu saya mengeluarkan kartu kredit untuk pembayaran, ternyata nggak bisa dipakai. Apa udah over limit ya? Saya pakai kartu debit juga di reject karena kartu debit hanya berlaku untuk bank lokal. Saya pinjam kartu kredit Anis juga nggak bisa dipakai. Waduh, 'gimana nih? Anis tanya, apa bisa pakai USD? Mereka bilang bisa. Huff, untung saja saya punya banyak stok uang USD, jadi nggak malu-maluin udah di kasir tapi nggak bisa bayar.

Karena saya beli di konter Duty Free, jadinya baru bisa mengambil jaket setelah melewati imigrasi di konter yang sama di dalam. Ya sudah, selanjutnya kami turun ke lantai satu, lalu cek in bagasi. Konter AirAsia akhirnya dibuka dan antrian langsung mengular panjang. Ntah kenapa, pelayanan cek in kala itu lama sekali. Bahkan saya dan Ferdi sampai bosan menunggu cek in saking udah nggak tau mau ngapain. Mana WIFI di bandara Auckland hanya gratis selama 30 menit saja. Selebihnya ya kami menunggu shuttle bus yang ada Free WIFI  parkir di depan bandara untuk menikmati WIFInya. Kalau busnya pergi, ya nggak bisa internetan lagi.

Oh ya, hari itu Anis nggak bisa beli lagi tambahan bagasi melalui web dan dia kena charge sekitar $200 karena kelebihan sekitar 20 kg. Anis baru inget kalau dia hanya beli bagasi 30 kg saja dan total bagasi dia sekitar 50 kg lebih. Saya sempat panik dan berusaha segala cara agar bisa membeli bagasi untuk Anis melalui web, sehingga lebih murah. Setau saya, 4 jam sebelum keberangkatan kita masih bisa beli bagasi, tapi kenyataannya nggak. Apa sistem AirAsia lagi down ya? Duh, kasian banget deh kemarin jadi harus mengeluarkan uang banyak untuk bagasi doang. Mana proses pembayaran bagasinya lama banget lagi. Cek in aja lama, apalagi yang ada masalah.

Saya dan Ferdi akhirnya kena giliran cek in. Petugasnya bertanya ini itu dan proses input data ke komputernya lama banget. Kita udah bete, mana petugas minta boarding pass saya dari Kuala Lumpur ke Jakarta lagi dan nggak dibalikin. Mungkin cek in doang memakan waktu 10 menit. Apa karena Airasia ke Auckland adalah rute baru, jadi petugasnya semua baru. Pokoknya semua petugas di konter cek in di dampingi oleh satu orang senior yang mendikte apa yang harus dikerjakan juniornya dan hal itu memakan waktu sangat lama. OMG!

Setelah selesai cek in, saya menunggu Anis melakukan pembayaran sambil berdiri di dekat shuttle bus lagi. Baru setelah selesai, kami naik lagi ke lantai 2, ke imigrasi, cek barang, dan masuk ke ruang boarding. Saya nggak lupa mengambil jaket dulu di Duty Free, lalu berjalan berkeliling toko-toko. Banyak banget sih barang yang mau saya beli cuma mengingat uang USD sisa 100, NZD sisa 70, dan yang lainnya hanya recehan, jadi nggak belanja lagi. Saya hanya duduk bengong sambil melihat orang berlalu-lalang. Kalau kalian mau shalat, disini juga ada Mushalla. Oh ya, ternyata banyak banget orang Indonesia yang baru selesai jalan-jalan juga tapi mereka menghabiskan waktu 2 minggu di New Zealand. Duh enaknya... Suatu hari bisa kesini lagi, saya mau pergi yang lama juga,

Kami boarding pesawat. Saya duduk di sebelah Ferdi lagi, sedangkan Anis, Mas Wid, dan Alys sederetan. Karena kami beli kursi, jadi saya dan Ferdi hanya berdua saja di dalam 3 kursi. Lumayan lapang jadinya. Pesawat dari Auckland ke Gold Coast malam itu dingin banget. Penerbangan malam itu lumayan banyak turbulensi, tapi karena saya ngantuk banget jadi udah nggak terasa.

Sesampai di Gold Coast, kami buru-buru turun untuk ke toilet terlebih dahulu dan mau beli magnet kulkas dan gantungan kunci bertuliskan Gold Coast untuk koleksi. Lagi asyik memilih magnet, eh malah ada pengumuman Final Call dari Air Asia untuk langsung naik pesawat. Duh, mana proses bayar di kasir lama. Saya jadi pakai uang NZD untuk membayar belanjaan dan uang kembalinya dengan AUD. Di dompet saya jadi banyak banget macam-macam uang dollar dari berbagai negara. Alhamdulillah akhirnya dapat magnet bertuliskan Gold Coast walaupun udah ketakutan nggak boleh boarding pesawat lagi.
Magnet kesayangan
Penerbangan dari Gold Coast ke Kuala Lumpur memakan waktu 8 jam. Saya tidur aja sepanjang jalan dan hanya bangun ketika mau makan. Mungkin karena kelelahan jadinya tidur selama itu nggak masalah, padahal lumayan banyak turbulensi malam itu tapi ya sudahlah, udah pasrah. Sesampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 5 pagi. Kami turun pesawat dengan masih setengah sadar berjalan ke imigrasi dan mengambil bagasi. Kami mampir dulu ke sebuah Cafe untuk sarapan dan mengumpulkan nyawa sebelum cek in lagi. Untung bawa banyak uang MYR jadi bisa sekalian beli sendal Vincci di bandara (setiap ke Kuala Lumpur pasti beli alas kaki merek ini).

Selesai makan dan belanja, kami cek in, berjalan ke imigrasi lagi, pemeriksaan barang lagi (kali ini boots saya disuruh buka), dan masuk ke ruang boarding. Kami kemudian naik pesawat kembali ke Jakarta. Selama di pesawat saya masih tidur lagi. Gile yah, tidur melulu hahahaha. Alhamdulillah sampai di Jakarta dengan selamat. Setelah ambil bagasi, saya bersalaman dengan Ferdi, Anis, dan Mas Wid, mencium Alys, dan kami berpisah. Sungguh perjalanan yang menyenangkan bersama kalian. Mohon maaf apabila ada kesalahan saya selama trip bareng.

Saya naik Uber menuju rumah dan supir Ubernya nanyain saya pulang dari mana. Sewaktu saya jawab New Zealand, eh supirnya minta di ceritain sampai tiba di Depok. Capek juga saya bercerita tapi seru sih. Perjalanan ke Depok jadi nggak terasa. Sampai di rumah, adik saya Achmad menyambut saya. Duh, saya kangen banget sampai peluk dia di teras erat banget (sampai diliatin tetangga). Akhirnya selesailah perjalanan saya ke negara Lord of the Ring.

Postingan berikutnya tentang kesimpulan saya tentang negara Selandia Baru dan berapa budget yang saya keluarkan. Stay tuned!

September 17, 2016

Skyline Queenstown

Setelah main di dermaga, kami kembali ke mobil dan langsung menuju Skyline Queenstown. Kalian bisa menikmati beberapa wahana di tempat ini tapi bukan malam hari karena wahana pada tutup jam 6 sore. Kalian bisa mencoba Luge (naik perosotan dengan sepeda datar), menikmati Stratosfare Restaurant (Resto diatas langit), dan Stargazing (menikmati bintang di malam hari). Karena waktu terlalu mepet, saya dan teman-teman hanya bisa menikmati makan di Stratosfare Restaurant saja.

Kami memarkir mobil di depan Skyline, lalu berjalan masuk ke tempat naik gondola (Restaurant berada di puncak gunung, jadi harus naik gondola). Ketika kami registrasi, ternyata jadwal dinner kami adalah 5.45 p.m dan kami datang registrasi jam 7 malam. Petugas lalu menelepon resto untuk mereservasi ulang dan kami mendapat tempat pukul 8.30 p.m. Akhirnya kami terpaksa keluar lagi dari Skyline lalu memutuskan untuk cek in Motel dulu.

Ternyata, tempat kami menginap di Queenstown Lakeview Holiday Park dekat banget dengan Skyline. Bahkan jalan kaki pun bisa. Tapi karena malam itu kota Queenstown dingin sekali, kami memilih naik mobil saja. Saya turun lebih dahulu untuk cek in di resepsionis Motel. Yang nggak enaknya, penginapan yang satu ini nggak ada WIFI dan saya jadi harus bayar $5 untuk mendapatkan aksesnya. Berhubung saya perlu banget dengan WIFI, ya terpaksa beli deh. Resepsionis memberikan saya peta dan kode pagar untuk masuk ke komplek penginapan. Setelah merasa semua informasi tentang hotel sudah saya terima, saya balik ke mobil dan masuk ke komplek Motel.

Saya rasa penginapan di Queenstown paling nggak bagus, sempit, nggak ada dapur di dalam ruangan, dan paling mahaaal. Tapi mau gimana lagi, kita memang butuh penginapan di tengah kota. Kami menurunkan koper, meluruskan badan sebentar di kasur (saya kebagian bunk bed), ke toilet, baru deh balik lagi ke Skyline. Karena jarak yang dekat, kami sengaja berangkat ke Skyline agak mepet jam 8.30 p,m. Kami langsung diarahkan masuk ke gondola dan naik ke atas. Saya agak susah mengambil foto keadaan sekitar gondola karena gelap banget. Kamera saya nggak mampu mengambil gambarnya.
Gondola
Stratosfare Restaurant
Sky Dining
Sesampai di atas, saya takjub melihat resto semewah ini. Perabotannya, desain interiornya, semuanya mewahhh banget. Kami registrasi terlebih dahulu, baru dipersilahkan menikmati buffet makanan. Saya dan teman-teman mengambil tempat pas di sisi jendela, sehingga pemandangan lampu-lampu kota Queenstown bisa terlihat dengan jelas. Oh ya, kalau kesini kalian harus dress up ya. Nggak boleh pakai baju lusuh karena Stratosfare termasuk fine dining restaurant tapi versi buffet.
Makanan dan koki
Saatnya memilih makanan. Saya mengambil berbagai macam makanan yang belum pernah saya lihat di Indonesia, Mulai dari mash pumpkin (biasa kan mash potato), kerang ijo, steak, sayuran, sushi, sashimi dari berbagai ikan yang belum pernah saya dengar sebelumnya (King of Salmon, King of Trout, dan lainnya), berbagai kue (favorit saya Pavlava dan kue coklat), berbagai macam salad, dan buah (terutama kiwi). Saya ngambilnya dikit-dikit, jadi bisa dimakan semua. Kalian juga akan mendapatkan unlimited sparkling water (kalau di Indonesia sejenis Equil). Untuk lebih lengkapnya bisa menonton video saya aja ya.
Salad
Kerang
Kami makan dan mengobrol sampai lebih dari jam 10 malam. Memang paling asyik makan malam dengan pemandangan super indah, membuat betah berlama-lama. Setelah kenyang dan sepertinya resto juga bakalan tutup, kami pun pulang. Kalau kalian mau Stargazing (melihat ribuan bintang) harus naik laik lagi sekitar 10 meter ke atas Stratosfare Restaurant. Kami memutuskan untuk pulang dengan naik gondola lagi ke bawah. Sesampai di bawah, kami ditawari foto-foto di Gondola. Lumayan lah walaupun cuma editan, tapi bisa menunjukkan lampu-lampu kota Queenstown. Kami membayar $29 untuk beberapa lembar foto.
Foto
Karena ini adalah malam terakhir kami di New Zealand, saya dan teman-teman memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota. Walaupun malam itu dingin sekali, tapi saya tetap menikmatinya. Saya berjalan bersama Ferdi, sedangkan Mas Wid, Anis dan Alys berjalan bersama. Kami berkeliling masuk ke berbagai minimarket mencari coklat dan permen. Kami juga berjalan menuju dermaga lagi dan jadi ingin nongkrong di beberapa Pub. Sayangnya karena bawa Alys, kami nggak boleh masuk Pub. Oh ya, jangan lupa mampir di The Remarkable Sweets, sebuah toko yang menjual permen dan coklat yang paling ngehits se-Queenstown bahkan seantero New Zealand. Memang sih coklat dan permen disini mahaaaal, tapi saya beli juga untuk oleh-oleh. 
Hasil hunting di Queenstown
Sudah pukul 12 malam, Alys juga udah ngantuk. kami pulang ke penginapan. Ferdi dan Mas Wid masih ngajakin nongkrong di Pub atau Bar tapi saya udah males. Biasanya kalau udah nyentuh kasur kan bawaannya jadi malas kemana-mana. Ya udah, saya beberes isi koper aja dan menemani Anis di Motel. Kami mengobrol bahkan sampai Mas Wid dan Ferdi pulang dan baru sadar kalau udah lebih dari jam 2 malam. Ketika mereka pulang, saya baru mau mandi. Saya memang kebiasaan mandi malam, jadi mungkin baru bobo jam 3 malam.

Besok pulang ke Indonesia, sediiiihhhh........

Around Queenstown

Queenstown merupakan nama kota wisata di Otago di bagian barat daya South Island, Selandia Baru. Letak kota ini berada di sisi Lake Wakatipu. Kota ini terletak di kaki pegunungan dan merupakan kota terbesar di Otago Tengah. Jumlah penduduk 9.251 jiwa (2006), sedikit banget ya? Kalau kalian menyukai eksplorasi kota dan berbelanja, Queenstown adalah kota yang paling tepat. Selain karena banyak sekali pertokoan disini, kalian juga bisa melihat banyak wahana yang tersedia seperti Shotover Jet (rafting naik perahu karet di sungai Shotover) dan juga Skyline yang nanti malam akan kami kunjungi.
Menu Fergburger
Karena Anis sudah pernah ke Queenstown, jadi kami agak gampang untuk tau mau kemananya. Hal pertama yang kami lakukan adalah makan Fergburger. Katanya, ini adalah burger terenak se-Queenstown dan kalian dianggap belum sah ke Queenstown kalau belum makan Fergburger. Untuk mendapatkan burger enak seharga $11.5, kalian harus mengantri panjang dulu karena memang orang yang beli burger ini rame banget. Bahkan semakin sore jadi semakin rame disini.
Ramai pengunjung
Minuman pesanan kami
Mengantri
Bapak Fergburger
Setelah mengantri, akhirnya saya dapat juga burger legendaris yang satu ini. Kalian tau, rasanya enaaaak banget. Wajarlah rasa daging sapi New Zealand (kalau di Indonesia mahal banget), ditambah keju mozarella dari susu kambing, sayuran segar, dan roti super enak berpadu menjadi satu. Duh rasanya enaaaak banget deh. Mana porsinya super besarrr.
Akhirnya dapat
Burger porsi besar
Kami duduk di pinggir jalan sambil menikmati burger dengan minum jus apel. Sebenarnya nanti malam kami bakalan Sky Dining di Skyline, jadi seharusnya jangan makan banyak-banyak karena nanti malah nggak lapar. Saya hanya makan burger setengah aja dan menyimpan sisanya di tas. Ferdi dan Anis berhasil makan satu dong. Mantap bener deh mereka.
Selamat makan
Selesai makan, kami berjalan menyusuri kota Queenstown. Duit NZD saya sudah habis jadi terpaksa ke Money Changer dulu untuk ditukar. Setelah punya duit, saya masuk ke toko souvenir di ujung jalan. Penjualnya orang Jepang dan souvenir disini lengkap banget. Saya beli macem-macem disini seperti gantungan kunci, madu Manuka, sabun, lotion, dan lipbalm dari madu Manuka juga, boneka, coklat dan sebagainya. Sepertinya saya habis 2 juta belanja disini karena memang barang-barangnya mahal. Hampir semua souvenir di New Zealand mahal banget, tapi demi orang-orang tercinta, gue beli dehhhh!
Pelabuhan
Selesai belanja, saya berjalan sampai ke daerah pelabuhan. Tempat ini lumayan romantis apalagi di kala matahari terbenam. Kalian bisa melihat banyak burung camar, cafe-cafe cantik di atas perahu dan disisi sungai, berbagai Pub dan Bar keren, pokoknya bagus banget deh. Saya duduk di kursi taman sambil menikmati matahari terbenam, berfoto, dan merekam video seperti biasa. Ah, seandainya bisa ke New Zealand lagi, saya akan memilih untuk berlama-lama di Queenstown. Yuk pergi kesini lagi...
Deretan Cafe, Pub, dan Bar
Burung camar
Setelah puas menikmati pemandangan, saya dan teman-teman kembali ke mobil. Setelah ini kami akan ke Skyline Queenstown. Sampai jumpa!

Categories

Living (228) adventure (224) Restaurant (137) Cafe (127) Hang Out (118) Jawa Barat (99) Bandung (91) Story (78) Movie (72) Jakarta (63) Lifestyle (62) Aceh (48) Event (46) China (31) Hotel (27) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Malaysia (15) Semarang (14) Warung Tenda (14) Kuala Lumpur (12) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Karimun Jawa (6) Wedding (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Jawa Timur (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Surabaya (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Hakone (2) Home Made (2) Malang (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Makassar (1) Pulau Gusung (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan