Januari 24, 2017

Berziarah di Madinah

Baru sempat melanjutkan postingan lagi tentang Madinah. Kali ini saya memposting blog dengan menggunakan laptop dan internet super kenceng, jadinya lebih semangat mengetik-ngetik, hihihi. Saya akan bercerita tentang beberapa tempat yang penuh sejarah yang saya kunjungi di salah satu kota Tanah Haram ini. Nggak semua tempat saya masuki karena ada yang memang cuma ditunjukkan dari dalam bus saja. Sebelum ke Tanah Haram, saya memang sengaja membaca 3 buku tentang Mekkah dan Madinah sampai tamat supaya nggak nge-blank banget ketika berziarah. Lagian memang ingin membekali diri juga dengan pengetahuan tentang islam. Baiklah, mari disimak.
Nunggu di lobi mau jalan-jalan
Naik bus
Masjid Quba
Masjid ini adalah yang pertama dibangun Rasulullah SAW dan sangat ramai dikunjungi oleh para jamaah. Apalagi kalau berkunjung ke mesjid ini hari Sabtu, beuuuh ramenya. Hari biasa aja rame, apalagi hari Sabtu. Kenapa Sabtu dan kenapa masjid ini ramai dikunjungi? Berikut petikan hadistnya.
Masjid Quba dengan langit biru
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah." (Sunan ibn Majah, no 1412).
Dahulu Rasulullah SAW mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki atau berkendaraan kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rekaat. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

Kalau dilihat dari arsitektur bangunan, hampir sama dengan mesjid kebanyakan di Madinah. Nggak bisa dibandingin dengan Masjid Nabawi yang sangat indah karena memang Masjid utama. Sewaktu saya kesini, dari luar terlihat jamaahnya padat banget, tapi ketika udah masuk mesjid malah lengang. Nggak tau ya, mungkin banyak yang memilih shalat di luar karena mereka mengira nggak ada tempat shalat di dalam.

Kebun Kurma
Seharusnya kami ke Masjid Quba dulu, baru ke kebun kurma. Karena pengunjung Masjid Quba terlalu ramai, maka kami ke kebun kurma terlebih dahulu. Karena memang rute perjalanan setiap travel umrah pasti mengunjungi masjid dulu baru kebun kurma. Jadi kita antimainstream biar di kebun kurma sepi, di mesjid juga sepi (walaupun nggak sepi juga). Paling nggak bus kita bisa parkir. 
Rameee
Ustadz sudah mengingatkan kalau beli kurma disini tuh harganya mahal tapi teteuppp aja yang beli berduyun-duyun. Berhubung saya nggak ada duit juga, jadi saya hanya mencicipi beberapa kurma nabi (yang paling mahal) lalu keluar. Sebenarnya agak males juga mencicipi kurma langsung karena banyak banget tangan-tangan orang yang megang kurmanya. Takut kurmanya jadi kotor dan malah kita makan.
Ke kebun kurma
Di luar toko, ada yang menjual kurma muda seperti anggur yang dingin (dikeluarin dari kulkas). Duh rasanya enak banget. Ntah berapa biji yang saya makan dan akhirnya Mama beli juga kurmanya (mungkin karena melihat saya dan adik makannya lahap banget). Beneran enak banget deh, rasa anggur (kurma rasa anggur😅). Selebihnya saya hanya berfoto saja di dekat batang kurma. Sebenarnya nggak begitu bagus pemandangannya, karena nggak ada kurma di pohon. Agak aneh aja berfoto dengan batang kurma buat apaan coba, hahaha.
Beli kurma rasa anggur
Museum
Saya berkunjung ke beberapa Museum yang ada di sekitar Masjid Nabawi. Sebenarnya saya agak bingung juga dengan informasi yang saya dapat dari dalam Museum selain dari cerita perjalanan Rasulullah, Masjid Nabawi dulunya seperti apa, dan beberapa kaligrafi. Menarik banget sih, tapi pengunjungnya terlalu rame. Yah mau 'gimana lagi, semua tempat apa pun itu di Madinah dan Mekkah memang super duper rame. Lagi asik baca keterangan di gambar, eh ada orang yang mau berfoto dan saya harus geser deh.
Rute Hijrah Nabi Muhammad SAW
Masjid Nabawi tempo dulu
Mama dan Mami
Kebun kurma juga
Ustadz kami nggak ikut masuk ke dalam museum yang pertama, sedangkan ustadz yang menjelaskan isi museum suaranya nggak jelas. Bahkan saya sama sekali nggak tau beliau ngomong apaan ya. Jadinya saya cuma berfoto saja di dalam museum. Di museum ini saya bertemu dengan mantan bos di Hyperintel dulu. Kebetulan banget ya.
Kaligrafi super keren
Oh ya, sebelum ke museum, kami sempat mampir di tempat Abu Bakar As-Siddiq di bai'at menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW. Sebenarnya nggak ada apa-apa sih di tempat ini, jadi saya hanya mengambil foto dari depan pagar aja ya. Foto-foto yang lain ada sih, cuma agak narsis, hihihi.
Tempat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah
Baqi'
Tempat ini adalah pemakaman utama di Madinah. Banyak sekali orang-orang penting dalam sejarah islam di makamkan disini seperti keluarga Nabi dan sahabat Nabi. Saya penasaran ingin melihat dari dekat pemakamannya tapi hari itu pemakaman ditutup. Memang kalian nggak akan mengetahui siapa yang di kuburkan di dalamnya karena hanya ada batu penanda saja bukan batu nisan. 
Di pintu Baqi'
Jangan lupa mengucap salam di Baqi':
السّلاَمُ عَلَيْكُم دَارَ قَومٍ مُؤْمِنِيْنَ
"Salam sejahtera keatas kamu wahai tempat tinggal orang-orang yang beriman."

Dan kepada Khalifah Utsman bin Affan:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ذَا النُّورَيْنِ عُثْمَانَ ابْنِ عَفَّانَ
"Salam sejahtera ke atas engkau wahai Saidina Utsman bin Affan yang mempunyai dua cahaya."

Masjid Khulafaur Rasyidin
Kalian bisa melihat suatu kawasan dimana ada Masjid Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman. Kata ustadz, masjid-masjid ini tidak digunakan untuk shalat dan dibangun hanya untuk mengingatkan kita kalau dulunya mesjid ini adalah rumah para sahabat Rasulullah.
Mesjid-mesjid
Awalnya saya ingin shalat di dalamnya, tapi memang nggak bisa. Saya juga sempat bingung kenapa banyak masjid di Madinah itu nggak ada jamaahnya. Ternyata karena masyarakat disini memang memilih untuk shalat di Masjid Nabawi karena pahalanya 1000 kali lipat dari masjid biasa. Makanya setiap ziarah, ustadz selalu mengusahakan agar kita bisa shalat tiap waktu di Masjid Nabawi walaupun harus masbuq (telat shalat berjamaah satu rakaat atau lebih).

Beberapa tempat penting ada yang tidak sempat kami kunjungi tapi hanya melihatnya dari dalam bus, seperti Masjid Qiblatain (Masjid dengan 2 kiblat) dan Jabal Uhud. Padahal dua tempat ini bersejarah banget apalagi Jabal Uhud. Sayang banget kami nggak turun disini karena takut telat shalat Zuhur di Masjid Nabawi. Insya Allah kalau nanti umroh lagi mau turun disitu.
Jabal Uhud
Banyak juga yang turun di Jabal Uhud
Oke, nanti saya posting lagi ya. Sampai jumpa!

Januari 19, 2017

Belanja dan Nongkrong di Madinah

Kali ini saya akan membahas pengalaman belanja-belanji di Madinah. Saya nggak akan menceritakan pengalaman saya hari demi hari karena nggak setiap hari juga belanja, tapi saya rangkum dari hari pertama sampai hari terakhir dalam satu postingan. Salah satu yang paling saya suka setiap jalan-jalan ke luar negeri adalah belanja. Berhubung saya sedang kere, jadi kemana-mana harus ngajakin Mama atau adek untuk minta dibayarin, hihihi. Yang paling seru kalau sedang belanja bareng saudara-saudara, jadi bisa beli banyak dengan harga murah.
Beli sajadah
Pertama:
Saya agak kaget ketika tau hampir semua pedagang di Madinah bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. "Sepuluh riyal, sepuluh riyal, halal!" Saya mengernyit, kok halal? Dan yang mengherankan, udah harga barang sepuluh riyal, eh malah ada yang nawar sampai lima riyal, dan 'halal' juga. Tapi kebanyakan orang Arab agak emosional. Kalau kita udah menawar terlalu murah (agak nggak tau diri juga sih), mereka bisa marah sambil nunjuk-nunjuk kita dan bilang, "anta tidak faham". Untung saya paling malas nawar barang, jadi nggak pernah ditunjuk-tunjuk sama pedagang. Tapi ada juga udah nawar berapa, pas saya ngasih duit gede, eh dikembaliinnya malah kurang. Saya bilang aja ke pedagangnya kalau uang yang dikembalikan itu 'haram'😑😑.

Kedua:
Paling malas karena punya wajah keturunan Arab. Hampir setiap mampir ke sebuah toko, pasti pedagang bilang, "Masya Allah, orang Arab!" Biasa saya pasti menjawab, "My Dad is Arab." Pedagang lalu melihat Mama dan bilang, "Jadi ini ibu mertua?" 😑😑Mertua siapaaa coba?! Kalau lagi mood, kadang kita ngobrol sama pedagangnya sambil menawar barang. Mereka pasti bertanya saya sudah punya suami apa belum? Kadang saya jawab udah punya anak 3. Tapi Mama lebih sering menyuruh mereka menebak umur saya dan tebakan mereka umur saya masih 20 tahun. Hampir semua pedagang percaya kalau umur saya 20 tahun. Kenapa bisa jadi muda banget ya??? 😂😂😂Mungkin karena muka saya imut-imut, hahaha. Kadang-kadang para pedagang bertanya nama saya, dan Mama pasti menjawab nama saya Fatimah. Selalu Fatimah deh pokoknya dimana-mana. Biasanya kalau udah mulai bertanya nama, pasti udah mau ngasih harga murah ke barang dagangan. Kadang disitulah kesempatan untuk belanja yang banyak.
Jejeran toko
Ketiga:
Suatu hari saya belanja bersama adik saya (namanya Achmad) di Bin Dawood. Karena males terlalu sering digodain sama pedagang, saya pegang lengan Achmad dan mengajaknya untuk menemani saya berkeliling toko. Ada seorang pedagang mengajak ngobrol.
"Istri? tanyanya sambil menunjuk saya dan adik jawab, "Bukan, ini sister."
Pedagang nanya lagi ke adik, "Kamu sudah punya istri?" dan Achmad menjawab belum.
"Berapa umur kamu?" tanyanya dan adik menjawab, "26."
"Apa? 26 belum punya istri?" tanya pedagang heran.
"Emangnya kamu udah punya?" tanya Achmad sambil senyum-senyum.
"Saya sudah punya DUA!" sambil menunjukkan 2 jari, "Dan umur saya baru 22." 😱😱
Saya dan Achmad langsung tertawa ngakak. Sialan bener deh pedagang yang satu ini. Ntah beneran istrinya udah dua, ntah bohongan.

Keempat:
Pernah saya nggak mau ikut Mama belanja ke pedagang sajadah yang sama karena digodain terus😌😌😌. Udah pake kacamata hitam, masih aja digodain. Beberapa kali saya coba pakai kerudung dan saya bikin seperti cadar. Tapi karena nggak nyaman, saya buka lagi deh. Jadinya saya pergi ke toko lain dengan sepupu saya untuk belanja. Sebenarnya orang Arab cakep-cakep banget sih. Kulitnya putih, matanya bagus dan seperti pakai eyeliner, hidungnya mancung, tapi kebanyakan pada suka ngegodain. Berhubung saya nggak suka cowok-cowok cheesy secakep apa pun apalagi cheesy-nya cuma untuk melariskan barang dagangan, jadi males deh.

Kelima:
Saya beli Abaya dari Dubai di sebuah toko. Awalnya harganya 180 riyal tapi dengan kemampuan Mama yang jago banget nawar dan penjualnya udah capek (katanya), saya dapat Abaya hanya dengan harga 130 riyal. Besoknya saya langsung pakai Abayanya untuk berfoto di seluruh sudut Mesjid Nabawi, hihihi. Sebenarnya saya nggak suka pakai Abaya, tapi ketika melihat banyak orang Turki dan Dubai yang pake dan ternyata keren banget, jadilah saya beli. Lagian bisa dipakai untuk shalat juga karena nggak membentuk badan. Kalau adik saya beli gamis untuk cowok dan penutup kepala supaya terlihat total seperti orang Arab.

Keenam:
Ketika membeli kurma dan pedagangnya bilang "Sayang," ke Mama dan tante saya. Disitu saya ngakak banget😂😂. "Mau beli berapa, Sayang?" Saya sih dengernya jijay banget karena agak nggak pantes cowok dengan usia mungkin dibawah 25 tahun bilang "sayang" ke Mama dan tante saya. Saya jadi nggak bisa milih kurma karena ngakak terus, dan Mama saya ngomel ke penjualnya karena nggak mau dipanggil, "sayang." Hahahaha! Adik saya juga dipanggil "ganteng". Kan jijay dipanggil ganteng sama cowok juga😂😂. "Mau yang mana, ganteng?" Kalau di Indonesia udah disangkain 'homo' kali ya dan adik saya merasa jijay sendiri, lalu keluar dari toko. It was so absurd.

Ketujuh:
Terkadang saya suka eksplor lorong-lorong kota dan menemukan banyak pedagang. Seharusnya semakin jauh tempat berjualan, harga barang semakin murah dong ya. 'Kan pembelinya sepi. Ini malah kebalikannya. Mana toko-toko yang jauh itu kadang susah banget ditawar harganya. Yang paling asyik ketika saya menemukan pasar dimana pedagangnya banyak wanita bercadar. Saya senang kalau pedagangnya wanita karena nggak usah takut digodain, tapi kebanyakan dari mereka nggak bisa bahasa Indonesia. Kalau di sekitar mesjid, pedagangnya pasti laki-laki dan lancar berbahasa Indonesia.

Kedelapan:
Saya sempat mengajak adik saya untuk nongkrong di hari pertama ketika tiba di Madinah. Ternyata hampir nggak ada cewek yang nongkrong di kota itu dan kebanyakan dari mereka pun kalau beli makanan untuk di bawa pulang. Awalnya saya pergi ke Starbucks untuk nongkrong dan beli tumbler. Ternyata Starbucks hanya menjual minuman dan cemilan saja. Beli Starbucks cuma untuk nongkrong di pelataran mesjid sambil menikmati matahari terbit yang sangat indah.
Es Krim
Saya sempat beli es krim di pinggir jalan tapi rasanya nggak begitu enak. Mana mahal lagi 20 riyal. Adik saya juga pernah membeli kebab dan nggak terlalu enak juga. Lebih enak kebab di Indonesia, hahaha. Setelah beli kebab, adik saya bukan nongkrong di tokonya, tapi jalan ke tempat lain untuk makan. Bahkan kadang beli kebab untuk di bawa pulang ke hotel. Kami juga sempat jajan di supermarket Bin Dawood untuk beli coklat dan cemilan yang sama sekali nggak ada di Indonesia. Kebanyakan harga coklat hanya 1 riyal dan kami jadi bisa borong yang banyak.

Kesembilan:
Oleh-oleh yang paling bagus untuk teman-teman muslim dan saudara saya adalah sajadah. Di Madinah sajadahnya bagus-bagus bangetttt apalagi yang dari Turki. Kebayang kayaknya kalau saya ke Turki bakalan borong sajadah, hahaha. Yang bingung adalah oleh-oleh untuk teman nonmuslim. Mau kirim kartu pos, di Madinah dan Mekkah nggak ada kantor pos. Kok aneh banget? Palingan saya beli magnet kulkas saja, hihihi.

Ternyata hanya 9 point yang saya bisa highlight ketika belanja dan nongkrong di Madinah. Sempat berpikir keras untuk mendapatkan point ke 10 ternyata nggak ada. Memang waktu nggak terlalu banyak untuk belanja karena nggak bawa duit banyak dan koper yang disediakan Travel juga agak kecil. Oke, nanti saya lanjutkan lagi postingannya. Sampai jumpa!

Januari 18, 2017

Menuju Raudhah

Sekitar pukul 6.30 malam waktu Madinah, saya dan Mama berjalan memasuki pelataran Masjid Nabawi untuk shalat Isya berjamaah. Karena Magrib Mama lelah, jadi kami baru bisa pergi sewaktu Isya. Hal yang paling menakjubkan adalah begitu ramainya orang di masjid ini. Mereka menjadikan Masjid tempat untuk mengobrol, bermain, makan, disamping untuk menimba ilmu agama. Saya dan Mama suka duduk di pelataran mesjid sekalian bertanya banyak hal tentang ilmu agama pada Mama yang mungkin saya sudah lupa. Kebetulan Mama saya S. Ag, Sarjana Alam Ghaib, hahaha. Nggak kok, Sarjana Agama.

Setelah shalat Isya, saya dan Mama langsung pulang ke hotel. Ustadz bilang, malam ini kami akan mengunjungi Raudhah (salah satu tempat paling mustajab berdoa dan salah satu tujuan utama di mesjid Nabawi) pukul 8.30 malam sedangkan beres shalat Isya saja sudah pukul 8 malam. Belum lagi antrian lift 15 menit, sehingga tiba di ruang makan saja sudah telat. Saya dan Mama buru-buru makan malam. Beberapa saat kemudian tante dan sepupu saya bilang kalau Ustadzah yang menemani kami ke Raudhah sudah siap tapi beliau mau menunggu kami sampai siap makan malam. Malah disuruh makan yang banyak, hihihi.
Kubah Hijau, rumah dan makam Rasulullah ﷺ
Selesai makan malam, kami berkumpul di lobi. Beberapa rombongan travel Belangi sudah pada 'ngumpul juga dan kita bersiap ke Masjid Nabawi. Sebelum memasuki masjid, ustadzah bilang kalau kami harus terus bersama-sama (stick together) karena Raudhah pada jam-jam dimana wanita diperbolehkan masuk itu padatnya luarrr biasaa. Kalau jamaah Pria lebih enak karena waktunya lebih banyak dan juga bisa shalat wajib/sunnah langsung di Raudhah. Kami pun berbaris rapi dibelakang ustadzah dan mengikuti beliau berjalan masuk ke Raudhah. Sebagai informasi, jam berkunjung Raudhah untuk wanita adalah jam 7-9 pagi, 1-3 siang, 9-11 malam (kalau nggak salah ingat).

Apa itu Raudhah? Sebuah taman surga yang berada diantara rumah Rasulullah dan mimbar beliau. Sangat dianjurkan beribadah di dalamnya karena seperti sedang beribadah di dalam surga. Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad  dimakamkan di rumahnya dan kubah hijau di Masjid Nabawi itu penanda kalau dibawahnya itu adalah tempat Makam dan Rumah Nabi Muhammad ﷺ bersama istrinya Aisyah.

"Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku." (HR Abu Hurairah RA)
“Allah tidak mencabut ruh seorang nabi kecuali di tempat yang dia (nabi tersebut) ingin supaya dia dikuburkan disitu” (HR. At-Tirmidzi)

Dari pintu utama Masjid Nabawi, kita hanya tinggal berjalan lurusss saja dan nanti akan menemukan payung-payung karena langsung beratapkan langit (open space). Saya kaget melihat banyak sekali jamaah wanita yang sedang menunggu giliran memasuki Raudhah. Ustadzah menyuruh kami untuk duduk tertib menunggu giliran dan kami hanya menurut saja. Saya hanya memperhatikan orang-orang berlalu-lalang melalui celah-celah kami duduk. Yang agak stupid adalah, mereka bertumpu pada kepala kita untuk meminta jalan. Memang bukan kepala saya sih, tapi itu 'kan nggak sopan banget. Apa hal itu nggak sopan cuma di Asia Tenggara doang ya? Karena beberapa orang dari negara lain santai aja dipegang kepalanya sebagai tempat bertumpu. 
Kubah hijau difoto dari pelataran mesjid
Dari tempat duduk, kami sudah bisa melihat pintu makam Rasulullah. Perasaan saya langsung membuncah, antara rasa kagum, tidak percaya, dan penasaran. Gimana nggak, makam Rasullullah, Abu Bakar As Siddiq, dan Umar Bin Khatab yang biasa hanya bisa saya kagumi melalui buku dan cerita-cerita, sekarang hanya beberapa meter saja dari saya. Mungkin agak susah mendeskripsikannya perasaan saya karena beberapa kali saya terdiam berpikir dan memberi salam. 

Assalamu'alaika yaa Rasulullah...

Karena tante saya agak kurang sehat, ustadzah mengantarkan tante dan kakak sepupu saya terlebih dahulu ke Raudhah. Maunya Mama saya juga ikut tante tapi waktu itu Mama terlihat sehat dan kita sama sekali nggak kepikiran kalau Raudhah bakalan sepadat itu. Ustadzah mencarikan kursi lipat untuk Mama dan beliau mengangkat kursi itu sampai Raudhah. Padahal kursinya berat, tapi bisa jadi penanda kami kalau tiba-tiba kehilangan rombongan, tinggal liat saja ada kursi lipat yang diangkat tinggi-tinggi. Ustadzahnya baik bangettt! Semoga Allah membalas kebaikan beliau.

Baiklah, perjalanan menuju Raudhah pun dimulai. Seperti yang kita ketahui bersama kalau karpet di Raudhah itu berwarna hijau, sedangkan seluruh karpet di Masjid Nabawi berwarna merah. Sebenarnya cukup gampang menandakan yang mana Raudhah, tapi berdesakan memasukinya itu tantangan besar. Kalian harus berlomba dengan orang-orang Afrika, Turki, Iran, dan beberapa warga negara lain yang badannya besar-besar dan tinggi. Apalah kami ini orang Indonesia yang kecil dan imut-imut (ini saya doang). Apalagi mereka terus mendesak kami agar mau memberikan jalan. Mana teriak-teriak lagi ketika mengucap salam kepada Rasulullah. Menurut saya desak-desakan seperti ini sama saja seperti berdesakan pada jam pulang kerja di KRL (Commuter Line) menuju Bogor di gerbong wanita, dimana ibu-ibu adalah penumpang paling sadis dan tanpa ampun. Atau pun, seperti suasana pasar Tanah Abang di bulan Ramadhan yang ramenya minta ampun, dimana para pedagang bawa karung dan ibu-ibu gendut menyikut kita tanpa peduli kita kesakitan apa nggak. Mungkin memang cewek-cewek kalau berdesakan begitu kali ya? Agak sadis dan menyeramkan. Tapi saya sudah terbiasa. Terbiasa di KRL, terbiasa juga di Tanah Abang, hahaha.

Yang paling kasihan mungkin Mama dan Ibu-ibu lainnya yang tidak terbiasa berdesakan. Ada gunanya juga badan saya langsing jadi bisa nyelip-nyelip dan nggak terjepit diantara perut-perut ibu-ibu gendut dan tinggi. Ada juga sih orang baik yang membuka jalan, tapi jarang banget. Selagi terus berdesak-desak, akhirnya saya melihat karpet hijau. Saya langsung menginjakkan kaki saya ke karpet seolah-olah seperti melangkah naik masuk kereta. Padahal 'kan Raudhah nggak kemana-mana tapi ya saking antusiasnya ketemu karpet hijau. Ada fenomena mengherankan lainnya dimana susah banget shalat sunnah di dalam Raudhah (sangat dianjurkan shalat di dalam Raudhah). Orang-orang pada shalat dan teman-temannya menjaga agar 'yang sedang shalat' nggak terinjak dengan desakan orang. Duh, kalau begini, bagaimana cara saya shalat khusyuk ya? Ya sudah, mumpung lagi di Raudhah, saya berdoa dulu supaya bisa shalat sunnah dan Mama saya baik-baik saja sampai pulang.

Kami berjalan sampai sudut Raudhah. Yang enaknya adalah Mama bisa duduk manis di kursi (walaupun capek banget badan Mama karena terhimpit terus) dan saya bisa shalat tanpa terlalu berdesakan bergantian dengan teman-teman satu rombongan. Selesai shalat, saya mojok ke Makam Rasulullah  dan terdiam. Ya Rasulullah, saya sangat dekat denganmu dan dua sahabatmu. Terima kasih untuk seluruh perjuanganmu dan orang-orang terdekatmu dalam menyebarkan agama islam sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat seluruh alam). Mungkin karena saya orang yang cengeng, sehingga perasaan bercampur-aduk itu bisa membuat saya menangis. Saya menyentuh pintu Makam sambil terus mengucap salam, lalu saya berdoa kepada Allah banyak-banyak (punya pray list dari teman-teman juga) karena ini adalah salah satu tempat dimana doa paling dikabulkan. Biasanya saya mengambil foto atau merekam IG Story, tapi karena terlalu berdesakan jadi nggak mood mau mengeluarkan handphone. Jadi saya mengambil foto dari Google saja ya. Saya juga melihat banyak orang yang mengusap-usap pintu Makam Nabi Muhammad, lalu membasuh muka. Ngapain ya mereka? Saya hanya mengernyit saja karena memang banyak hal aneh-aneh disana. 
Raudhah
Setelah puas berdoa, kami mulai berbaris mengikuti arus untuk pulang. Awalnya lumayan lancar arusnya, tapi ternyata macet di tengah jalan. Ada seorang wanita berpakaian hitam duduk berdoa dan nggak mau berdiri walaupun semua orang jadi macet gara-gara dia. Para ustadzah sudah memarahi wanita itu tapi dia tetap bersikeras untuk duduk dan berdoa. Jadi bingung, apa dia nggak berpikir gitu ya kalau suasana jadi super crowded gara-gara dia. Duh, cuma bisa mengelus-elus dada dan tetap berada di belakang Mama untuk menaham himpitan dari segala arah.

Akhirnya setelah desak-desakan, himpit-himpitan, kami keluar juga dari Raudhah. Fiuhhh alhamdulillah tidak berkurang satu apa pun. Kami melihat tante dan sepupu yang ternyata sangat aman damai tentram dalam memasuki Raudhah. Mungkin karena masih awal jam masuk Raudhah dan mereka masuk melalui arus pulang sehingga lumayan gampang menginjakkan kaki di karpet hijau. Kami berjalan pulang, tapi di tengah jalan sempat berhenti sebentar untuk minum air zam-zam sebanyak mungkin karena haus dan capek. Baru setelah itu berterima kasih banyak pada ustadzah yang baik hati yang telah rela berdesakan mengantarkan kami ke salah satu taman surga.

Alhamdulillah karena sudah larut malam jadi nggak usah mengantri naik lift. Sampai di kamar, saya sudah tepar. Rasanya mau ganti piyama saja udah nggak kuat lagi. Selamat tidur!

Januari 17, 2017

Hari Pertama di Madinah

Setelah shalat Shubuh, mulailah saya menjalani hari pertama di Madinah. Hotel Al-Shalihiya dari Masjid Nabawi Gate 26 hanya 100 meter saja. Kebetulan, sepanjang jalan menuju hotel banyak toko seperti H & M, Starbucks, Mothercare, MAC, dan lainnya. Banyak juga toko souvenir yang membuka lapak mendadak di sepanjang jalan dan menjual barang dengan harga murah (nggak murah-murah amat juga sih). Hal yang pertama membuat saya heran adalah semua pedagang bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. What? Saking banyaknya jemaah umroh dari Asia Tenggara, mereka sampai lancar banget ngobrol pakai bahasa kita. 
Deretan toko
Awalnya saya mengira setelah shalat Shubuh saya bakalan jalan-jalan untuk mencari sarapan seperti yang saya lakukan biasanya ketika pergi ke luar negeri. Baru sadar kalau saya membayar paket umroh sudah dengan makan tiga kali sehari. Makanan disediakan setelah shalat Shubuh, Zuhur, dan Isya. Sebenarnya sarapan setelah shalat Shubuh (sekitar pukul 6.30 pagi) itu terlalu cepat bagi saya karena saya takut bakalan lapar lagi nanti jam 10an. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus mengikuti aturan tour. Hal yang membuat saya agak kesal adalah antrian lift yang luarrr biasaa rame. Masya Allah, ntah berapa kali lift datang dan kami tetap nggak bisa naik ke ruang makan. Sampai akhirnya petugas hotel membuka lift barang, baru agak mendingan antrian liftnya. Yang kasihan adalah pengguna kursi roda karena harus menunggu sampai benar-benar sepi baru bisa naik lift.
Antrian lift
Setelah drama antrian di lift, saya dan keluarga tiba di ruang makan. Kaget lagi melihat begitu banyak orang yang antri makan. Duh, hanya bisa mengelus dada dan menganggap ini adalah warna-warni dalam beribadah. Kesabaran saya sedang diuji. Saya berusaha santai, menunggu antrian makan sambil chatting dan melihat Instagram, baru deh bisa ambil makan. Saya makan nasi sedikit (belum mood makan karena terlalu pagi) ditambah dengan menu yang disediakan. Kebanyakan menu yang saya makan untuk sarapan adalah telur, ayam, dan sayur. Saya terkadang makan telur sampai 3 butir (telur rebus atau ceplok) yang membuat mata saya bintitan dan nggak sembuh-sembuh, hahahaha. Saya juga suka minum teh di pagi hari tapi bikin teh itu Pe-eR besar untuk saya. Semua orang rebutan bikin teh atau susu atau kopi, rebutan air panas, dan membawa minuman ke meja makan terkadang buru-buru sehingga minuman panas hampir mengenai orang lain. Saya hanya bisa menarik napas, berusaha tenang, lalu mencari tempat makan kosong (hampir mustahil) untuk Mama dulu, baru deh saya makan sambil berdiri kalau nggak mendapatkan tempat. Baru selama di Madinah saya bisa makan dengan cepat karena malas banget melihat orang mengantri juga untuk duduk di kursi saya, OMG!

Selesai makan, drama naik lift berikutnya. Kali ini kami harus berlomba masuk lift dengan para jamaah yang membawa makanan untuk di makan di kamar. Duh, udah desak-desakan di lift, bawa makanan, kadang bawa minuman panas yang sering banget kena/tumpah ke orang lain. Saya sempat terdiam, memutar otak bagaimana caranya harus naik lift dengan berdesak-desakan seperti ini. Sampai akhirnya saya tetap memilih untuk sabar menunggu.
Lift
Sampai di kamar, saya, Mama, dan adik memilih untuk tidur. Semalam kami belum tidur dengan nyenyak sehingga masih agak pusing. Setelah tidur, mandi, shalat Dhuha (biasa shalat Dhuha di kamar hotel saja) dan bersiap akan shalat Zuhur dengan tetap menggunakan jaket dan legging Thermal karena suhu udara masih 12 derajat, walaupun sinar matahari bersinar dengan teriknya.  Oh ya, selama di Tanah Haram, saya selalu menggunakan pakaian terusan (gamis atau abaya), sama sekali tidak pernah pakai celana. Sebelum masuk waktu shalat Zuhur, kami pergi ke depan pintu utama Masjid Nabawi untuk bermain bersama ratusan burung merpati. Saya paling suka mengejar merpati dan berfoto karena pemandangan para merpati terbang bersamaan itu sungguh indah. Walaupun hasil foto beberapa ada yang backlight, tapi bisa di edit sedikit. Selesai bermain dengan merpati, kami berkeliling komplek Masjid yang ternyata luas sekali. Duh, kaki saya sampai pegal dan badan jadi letih. Mungkin karena belum cukup tidur juga.
Mengejar merpati
Berkeliling komplek mesjid
Shalat Zuhur kali ini saya dan Mama memilih untuk duduk di luar mesjid (belum sekali pun saya masuk mesjid). Rasanya pinggang mau copot dan saya senang sekali duduk-duduk di karpet tebal di pelataran mesjid. Tidak lama kemudian adzan berkumandang. Jujur saja saya hampir nggak pernah shalat Sunah Rawatib (yang menyertai shalat Fardu) ketika waktu Zuhur. Biasanya hanya shalat Fajar saja.

"Barangsiapa salat dalam sehari semalam dua belas rakaat, akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu; empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum salat Subuh." (HR. At-Tirmidzi)
 "Dua raka'at fajar (salat sunah yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. " (HR Muslim)

Jadi bertanya sama Mama kalau yang Muakad (yang sangat besar pahalanya) shalat sunnah sebelum apa sesudah Zuhur? Mama bilang untuk Zuhur sebelum dan sesudah Zuhur dua-duanya Muakad, jadilah saya shalat dulu. Selang waktu dari adzan Zuhur sampai shalat berjamaah bisa sampai 30 menit sehingga kita bisa banyak-banyak berzikir dan berdoa diantara adzan dan iqamah (termasuk waktu paling mustajab berdoa). Apalagi berdoa di Masjid Nabawi adalah salah satu tempat paling mulia, jadi berdoalah banyak-banyak.

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)
Menara Nabawi
Shalat Zuhur lumayan cepat karena mungkin waktu dimana orang bekerja. Selesai Zuhur, imam menyerukan shalat jenazah. Kali ini saya belum shalat juga karena tiba-tiba lupa lagi bacaan shalat jenazah. Saya baru shalat jenazah di hari kedua di Madinah. Shalat rawatib juga nggak setiap waktu di hari pertama. Mungkin masih culture shock, mungkin juga masih berusaha mengubah kebiasaan yang hanya shalat Fardhu (wajib) saja dan jarang peduli dengan shalat sunnah. Anggaplah saya sedang belajar, dan saya masih butuh waktu.
Berkeliling mesjid
Setelah Zuhur, kami balik ke hotel dan mulai malas dengan antrian lift yang akan kami hadapi. Kalau lift barang terbuka, maka kami bisa dengan cepat naik ke ruang makan atau naik ke kamar. Tapi kesabaran memang sungguh sangat diuji dan untung saja saya orangnya sabar. Teringat dulu rela nungguin teman facial berjam-jam dan saya nggak ngapa-ngapain, dan saya juga betah diam berlama-lama tanpa melakukan apa pun. Tapi Mama dan beberapa tante saya yang kasihan. Karena mikirin mereka harus naik lift, terpaksalah mengantri dan benar-benar menjaga antrian sampai di depan pintu. Huff, lelah sekali! Dan ini baru hari pertama. Sabar... Sabar...! Sampai di ruang makan, buru-buru makan, lalu mengantri lift lagi untuk naik ke kamar. Dengan sedikit berdesakan, alhamdulillah berhasil juga masuk ke kamar.

Waktu Zuhur ke Ashar lumayan singkat. Mungkin hanya satu jam setelah makan siang, mulai adzan Ashar. Ketika kami sudah bersiap mau pergi ke mesjid karena takut mengantri lift, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dan petugas hotel menyuruh kami untuk pindah ke kamar di lantai 2. Saya bilang pada petugas kalau mau pindah kamar setelah shalat Ashar dan mereka nggak mau menunggu. Untung saja belum banyak barang yang dikeluarkan dari koper sehingga saya, Mama, dan adik bisa cepat beberes dan pindah kamar. Tante-tante dan sepupu saya bersikeras nggak mau pindahan karena mau shalat Ashar dulu. Karena kami merasa nggak punya pilihan lain, kami turun ke lantai 2, menaruh koper, dan langsung buru-buru ke mesjid. Untung antara adzan dan iqamah lumayan lama waktunya sehingga masih keburu shalat Ashar berjamaah.
Minum Zam-Zam
Selesai Ashar, saya dan Mama balik ke kamar hotel karena Mama mulai sakit kaki. Kasihan kalau nanti Mama malah sakit jadi harus buru-buru istirahat. Karena terlalu capek juga Mama nggak shalat Magrib ke Masjid. Saya terpaksa harus menemani Mama karena Mama nggak berani sendiri di kamar hotel. Baiklah, kesehatan lebih penting karena kita masih lama banget di Madinah. Cuma agak bosan di kamar hotel karena nggak ada WIFI. Keluarga saya hanya beli satu kartu Arab Saudi dan kami pakai internet secara tethering ke semua hp karena mahal banget paket data disana, sekitar 200rban dengan quota hanya 5 Giga. Untung saya sedang nggak banyak kerjaan sehingga nggak usah online tiap waktu. Palingan hanya update social media saja dan itu pun nggak bisa tiap saat. Liat Insta Story orang lain aja lemottt setengah mati dan kadang saya memang nggak mau nge-klik IG Story karena takut cepat habis quota (Instagram adalah aplikasi penyerap quota internet terbesar setelah Facebook). Jadi jangan marah kalau saya nggak lihat IG Story, jarang balas Whatsapp dan email, jarang buka social media pokoknya. Memang suasana dengan sendirinya memaksa kita hanya untuk beribadah kepada Allah.

Baiklah, postingan kali ini sudah sangat panjang. Nanti saya cerita lagi betapa sulitnya memasuki Raudhah. Sampai jumpa!

Januari 14, 2017

Pertama Kali ke Masjid Nabawi

Bus kami berhenti di depan hotel yang namanya tertera di name tag. Kami turun dan menunggu koper di lobby. Saya sekalian meminta akses WIFI untuk internetan kepada resepsionis. Tiba-tiba kami harus berpindah ke Hotel lain karena hotel ini sudah full booked. Lho? Kok bisa full booked? Ustadz pendamping lalu membawa kami ke hotel lain yang lebih dekat ke Masjid Nabawi. Malam itu dingin sekali dan kami berjalan kaki menuju Hotel Al-Shalihiya. Hotelnya lebih besar dari Durat Al-Andalus sih, hanya saja antrian lift lumayan panjang.

Keluarga saya mendapat kamar 710. Sewaktu masuk ke kamar, agak shock melihat kamar super kecil dan sempit. Ha? Nggak salah ini? Mana kamar mandinya juga kecil banget. Akhirnya Mama saya protes ke ustadz dan alhamdulillah kamar kami ditukar dengan kamar yang lebih besar, bahkan besar banget. Sesuai dengan yang diharapkan deh. Kami sempat tidur sebentar dan bangun jam 4.15 pagi untuk bersiap shalat ke Mesjid Nabawi. Ini pertama kalinya saya ke Mesjid Nabi, dan saya super antusias. Saya mempersiapkan banyak kamera dan jaket Thermal karena suhu udara di Madinah malam itu 10 derajat.

Saya sekeluarga berjalan menuju mesjid. Rasanya sangat kagum melihat pelataran mesjid yang indah dengan lampu-lampu LED menyala terang. Apalagi semua pilar payung masjid juga memancarkan lampu sorot yang membuat suasana menjadi indah dan terang-benderang. Ada perasaan hati yang membuncah ketika mendengar adzan dari Mesjid ini. Suara adzan mungkin sama dengan yang sering disiarkan di tv kita tapi mungkin saya sulit mengungkapkan betapa mendengar adzan yang berkumandang dari Masjid Nabawi itu seperti mimpi (mimpi yang sangat indah). Saya seolah masih tidak percaya kalau saya sedang berada di Masjid Rasulullah , dimana orang yang shalat disini pahalanya 1000 kali dari mesjid biasa.

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Ketika saya mau masuk ke dalam Masjid Nabawi, para petugas di pintu wanita yang berpakaian hitam bercadar langsung memeriksa tas setiap jamaah yang ingin shalat di dalam. Saya lupa kalau ada peraturan nggak boleh bawa kamera ke dalam mesjid, tapi kalau handphone boleh. Jadinya saya nggak boleh masuk dan hanya bisa duduk di luar. Hmm, bayangkan rasa dingin udara gurun di kala Shubuh. Bagian muka dan kaki saya mulai kedinginan banget. Jaket thermal memang menutupi badan saya tapi hanya bagian itu saja yang hangat. Padahal saya bawa celana thermal di koper, tapi saya nggak kebayang kalau bakalan sedingin itu. Mana anginnya gedeee banget.  
Pintu Masuk Masjid Nabawi
Saya duduk di luar mesjid (diatas karpet merah yang tersedia) sambil melihat sekeliling ketika menunggu adzan Shubuh. Saya takjub karena pengunjung mesjid ini rameeee bangettt. Mungkin kalau di Indonesia, pengunjung mesjid ini 1000 kali lebih banyak daripada orang-orang yang mau shalat Ied. Wajar saja karena para jamaah berasal dari segala penjuru dunia. Yang menakjubkannya lagi karena ini adalah shalat Shubuh, shalat yang paling sulit dilaksanakan bagi saya (ngantuuuuk sih) walaupun alhamdulillah belum pernah tinggal sama sekali. Mungkin karena semua orang berlomba-lomba ingin mendapat pahala yang besar, memperbaiki diri, bertaubat, dan bermunajat kepada Allah.
Menara Mesjid
Adzan pun berkumandang, menggema, memecah angkasa. Seolah seruan untuk shalat itu pertama kali saya dengar dan membuat saya merinding. Saya tidak bisa berkata-kata, hanya menunduk menjawab adzan dengan lirih. Ya Allah, saya masih belum percaya kalau Engkau memberikan kesempatan kepada saya untuk mengunjungi Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat Makam Rasulullah ﷺ, salah satu masjid yang paling mulia di muka bumi setelah Masjidil Haram. 

Setelah shalat sunat Fajar dua rakaat (shalat sunat yang lebih baik dari dunia dan seisinya), shalat Shubuh pun didirikan. Kala itu, saya sangat menikmati bacaan imam yang sangat indah. Terbersit dalam benak saya, imam Masjid Nabawi pasti orang pilihan dengan hafalan Al-Qur'an sudah diluar kepala dan pastinya lebih hebat dari imam mesjid di Indonesia. Dan yang pasti, beliau sangat mengerti arti dari surah yang dilafalkan. 

Selesai shalat, kira-kira sepuluh menit kemudian, imam menyerukan untuk bersiap shalat jenazah. Hampir semua orang shalat jenazah tapi saya nggak. Alasannya karena saya lupa bacaan dari takbir pertama sampai ke empat. Jenazah yang pertama kali saya shalatkan adalah Ayah dan saya merasa shalat jenazah adalah shalat yang paling sedih yang saya lakukan makanya jarang banget saya shalat. Tapi teringat lagi 1000 kali kebaikan shalat di Masjid Nabawi, sehingga saya berencana membaca lagi dan menghafal lagi rukun shalat jenazah.

Selesai shalat jenazah, para jamaah pun bubar. Saya takjub lagi melihat orang-orang rameeee banget. Salah satu pemandangan indah lainnya adalah langit Madinah di kala matahari terbit. Warna ungu bercampur dengan orange sangat indah, Subhanallah. Saya langsung mengambil foto dan merekamnya untuk Instagram Story. Ya Allah, terima kasih untuk semua kesempatan untuk menikmati keindahan ini.
Langit Ungu

Januari 09, 2017

Perjalanan Menuju Tanah Haram

Saya tidak pernah berpikir kalau suatu hari saya akan mengunjungi Tanah Haram. Mungkin beberapa dari kalian belum mengerti mengapa dinamakan Tanah Haram. Tanah haram, artinya tanah yang tidak halal untuk dilanggar.” (al-Misbah al-Munir, 2/357).

Tanah ini haram dengan kemuliaan yang Allah berikan, sampai hari kiamat. Tidak boleh dipatahkan ranting pohon-nya, tidak boleh diburu hewannya, tidak boleh diambil barang hilangnya, kecuali untuk diumumkan, dan tidak boleh dicabut rerumputan hijaunya. (HR. Bukhari  3189 & Muslim 3289)

Tanah Haram sendiri meliputi kota Mekkah dan Madinah. Sesungguhnya dua kota ini adalah yang paling suci dalam umat islam dan keamanan kota-kota memang telah dijamin oleh Allah SWT. Karena siapapun yang membuat kekacauan di Madinah atau Mekkah, maka ia akan lebur seperti leburnya garam di dalam air ((HR. Bukhari no:1877).

Tanah Haram juga dijaga pintu pintunya oleh para Malaikat berpedang, sehingga di akhir zaman Dajjal tidak akan mampu menginjakkan kaki ke dua kota tersebut. Tempat ini juga telah didoakan para nabi dan Rasul sehingga kemakmurannya telah terjamin sepanjang masa. 
Para tas kabin
Memantapkan niat saja tidak cukup untuk datang ke Tanah Haram, apalagi saya baru kali ini melakukan perjalanan yang dikhususkan untuk beribadah dan ikut dengan tour bernama Belangi. Saya membaca banyak buku untuk mengetahui detil tentang kota Mekkah dan Madinah karena saya nggak mau menjadi orang yang ikut-ikutan orang mau umroh doang. Umroh memang harus dari hati, sehingga bisa fokus. Saya juga harus memakai baju seragam yang disediakan travel agent, koper, tas kabin, dan tas paspor juga seragam semua. Bahkan mukenah aja sama, tapi saya nggak mau bawa. Awalnya saya merasa aneh karena biasanya saya bawa koper sendiri dengan style traveling sendiri tanpa ada yang mengatur. Agak merasa nggak nyaman juga karena semuanya harus mengikuti aturan dari travel. Apalagi koper harus di cek in sehari sebelum keberangkatan dan saya jadi bingung mau menyisihkan baju yang mana dulu untuk tidur semalam lagi di Banda Aceh. Jadi harus pinjam piyama dari sepupu saya.
Koper
Ketika hari H, passpor dan name tag dibagi ke masing-masing orang. Passport case saya yang keren itu sudah berganti dengan case dari travel. Duh, bahkan passpor pun harus kembaran dengan orang lain. Rombongan kami masuk ke ruang tunggu dan menyantap makan siang di dalam. Agak aneh karena seharusnya mana boleh makan di ruang tunggu. Setelah makan, kami shalat Zuhur jamak Ashar, lalu naik pesawat Garuda Indonesia langsung ke Jeddah. Baru kali ini melakukan perjalanan super jauh bersama Mama dan adik. Biasanya sih sama teman-teman saja.
Passpor dan Name Tag
Seperti biasa, pesawat belum terbang, saya sudah tertidur hahaha. Saya gampang banget tidur di pesawat. Saya bangun ketika makanan dibagikan, lalu tiba-tiba nggak bisa tidur lagi. Enaknya karena pesawat Garuda, saya bisa nonton film-film yang termasuk baru seperti Kung Fu Panda 3 dan AADC 2 (mau beribadah nonton film romantis dulu). Setelah beres nonton 2 film, kami dibagikan makanan lagi. Saya mengintip ke luar jendela dan melihat pemandangan padang gurun tandus membentang sejauh mata memandang. Subhanallah! Biasanya selalu mendarat di negara yang hijau, sekarang negara padang pasir nan gersang.
Selfi dan bersiap tidur
Beberapa saat kemudian, pilot memberikan pengumuman untuk yang mau langsung umroh bisa mengganti pakaian ihram di bandara King Abdul Azis, Jeddah. Berhubung kami akan langsung ke Madinah, jadi nggak perlu berihram di bandara. Alhamdulillah kami mendarat juga setelah 8 jam duduk manis di pesawat. Hal yang pertama saya cari di bandara adalah WIFI dan ternyata malah nggak ada. Saya kagum melihat orang-orang yang mau proses ke imigrasi sambil menggunakan pakaian ihram. Jadi sadar, oh ternyata saya benar-benar sudah berada di Arab Saudi. Sewaktu passpor saya mau di stempel, petugas mengecek semua Visa saya satu persatu mulai dari Jepang, China, Hong Kong, sampai New Zealand. Setiap melihat Visa, petugas melihat wajah saya, lalu lihat Visa lagi, lalu lihat wajah saya lagi. Duh, saya jadi buang muka akhirnya.
Bandara King Abdul Azis
Atapnya seperti tenda-tenda
Setelah shalat jamak Magrib dan Isya, kami berjalan menuju bus. Enaknya ikut tour jadi nggak usah mikirin ambil bagasi. Adik saya membeli kartu telepon seharga 70 Riyal dan akhirnya ada internet juga. Langsung pusing membaca pesan yang bertumpuk-tumpuk. Rombongan tour Belangi harus menunggu sejenak (lumayan bisa internetan dulu), baru bisa naik bus untuk menuju kota Madinah. Kami dibagikan makan malam dan saya makan seadanya saja karena hari ini sudah makan 5x. Setelah makan, saya minum obat (mulai flu) dan tidur di jalan menuju Madinah. Oh ya, ditengah jalan, bus berhenti di rest area karena mungkin saja ada jamaah yang mau ke toilet. Sewaktu saya turun dari bus, saya langsung kaget dengan suhu udara dinginnnnnn bangettt. Saya sampai gemetaran saking nggak ada persiapan dan langsung bersin-bersin. Haduwh, pusing banget ini rasanya. Seandainya jaket thermal saya ada di ransel, sudah pasti saya pakai. Sayangnya jaket malah di koper.

Saya buru-buru ke WC lalu balik ke bus. Setelah itu lanjut tidur sampai masuk Madinah, kota dimana islam memancarkan cahaya Syariah Islamiyah sehingga disebut dengan Madinah Al-Munawarrah (Madinah yang Bercahaya). Karena akan memasuki Tanah Haram, kami memanjatkan doa terlebih dahulu agar tubuh, hati, dan pikiran menjadi suci. Yang membuat saya super antusias dan merinding adalah ketika ustadz menunjukkan pintu pagar Mesjid Nabawi yang begitu indah, megah, dan mewah. Karena saya sudah sangat dekat dengan makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar As Siddiq, dan Umar bin Khatab yang biasanya hanya saya lihat di tv dan buku. Maka meneteslah air mata ini...

Assalamu'alaika yaa Rasulullah 

Januari 07, 2017

I'm Back From Saudi Arabia

Mungkin bisa dibilang, perjalanan ke Arab Saudi untuk berumrah ini adalah yang terlama sepanjang saya berpergian ke luar negeri. Sampai ditanyain oleh banyak orang, "Kok kamu lama banget?" Saya cuma bisa menjawab, "Alhamdulillah disuruh tobat dan beribadah banyak-banyak di Mekkah dan Madinah," sehingga saya tidak menyesal. Meskipun saya capek banget, suhu udara malam hari sampai 8 derajat dan siang hari sampai 33 derajat, terserang batuk, suara serak, berat badan turun 2 kg, tapi saya senang banget melakukannya. Nanti saya ceritakan detilnya, dan sekarang selamat menikmati foto-fotonya terlebih dahulu ya. 
Siang sempat 12 derajat dan pakai jaket thermal
Beli baju Abaya
Baqi, makam para syuhada
Dibawah kubah hijau itu makam Rasulullah SAW
Baju merah terlalu mencolok di negara ini
Museum
Museum
Belanja yuk
Pakai baju Vietnam di Madinah
Shalat aja pakai kacamata karena silau banget
Unta
Laut Merah
Mesjid Terapung
Masjid Nabawi
Mengejar merpati
Pintu Nabawi
Kebun kurma
Mesjid Quba
Pintu Nabawi
Nungguin Mama
Jabal Rahmah
Pertanyaannya adalah, berapakah kacamata yang saya bawa? Jawab aja ya walaupun nggak penting, hihihi.

Categories

adventure (263) Living (236) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (81) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (48) Hotel (34) Islam (32) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Sabang (8) Saudi Arabia (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Medina (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) CEO (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Jeddah (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan